1. Masalah
Kesehatan Meningitis
MENINGITIS
Secara ringkas pengertian dari meningitis adalah
radang pada maningen/membran(selaput) yang
mengelilingi
otak dan medula spinalis.
Meningitis
dapat di bedakan menjadi 2:
a.
Meningitis virus
Tipe dari meningitis ini sering di sebut meninitis aseptis. Tipe ini
biasanya disebabkan oleh berbagai jenis penyakit yang disebabkan virus seperti
gondok,herpes simpleks dan herpes zooster. Eksudat yang biasanya terjadi pada
meningitis bakteri tidak terjadi pada meningitis virus dan tidak ditemukan
organisme pada kultur cairan otak. Peradangan terjadi pada seluruh korteks
serebri dan lapisan otak. Mekanisme atau respon dari jaringan otak terhadap
virus bervariasi tergantung pada jenis sel yang terlibat.
b.
Meningitis Bakterial
Meningits bakterial adalah suatu keadaan ketika meningen atau selaput
dari otak mengalami peradangan akibat bakteri. Sampai saat ini bentuk paling
signifikan dari meningitis adalah tipe bakterial. Bakteri yang paling sering di
jumpai pada meningitis bakterial akut adalah Neiserria Meningitidis (meningitis
meningokokus),Streptococcus Pneumoniae(meningitis pada orang dewasa) dan
Haemopbilus Influenzae( pada anka-anak dan remaja ).
A.
Faktor- faktor penyebab Meningitis :
Saat ini ada beberapa Bakteri yang dapat menyebabkan
meningitis. Beberapa di antaranya:
·
Bakteri Meningokokus
atau Meningococcal bakteri - ada beberapa jenis bakteri meningococcal disebut
grup A, B, C, W135, Y dan Z. Saat ini ada vaksin tersedia yang menyediakan
perlindungan terhadap grup C meningococcal bakteri. Dari meningococcal
meningitis, namun, umumnya disebabkan oleh Grup B bakteri.
·
Streptococcus
pneumoniae bakteri atau pneumokokus bakteri-bakteri ini cenderung mempengaruhi
bayi dan anak-anak dan orang tua karena sistem kekebalan tubuh mereka lebih
lemah dari kelompok usia lainnya.
·
Mereka yang
memiliki CSF shunt atau memiliki cacat dural mungkin untuk mendapatkan
meningitis yang disebabkan oleh Staphylococcus
·
Pasien
memiliki tulang belakang prosedur (misalnya tulang belakang anaesthetia)
beresiko meningitis yang disebabkan oleh Pseudomonas spp.
·
Sifilis dan
tuberkulosis menuju meningitis serta jamur meningitis langka penyebab tetapi
terlihat dalam individu positif HIV dan orang-orang dengan kekebalan ditekan.
Ada beberapa Virus yang dapat menyebabkan virus meningitis. Vaksinasi terhadap
banyak virus ini telah menyebabkan penurunan kejadian beberapa kasus virus
meningitis. Untuk contoh campak, gondok dan Rubela (MMR) vaksin menyediakan
anak dengan kekebalan terhadap gondok, yang dulunya merupakan penyebab utama
dari virus meningitis pada anak-anak.
Virus yang dapat menyebabkan meningitis meliputi:
- virus
herpes simpleks-ini dapat menyebabkan genital herpes dan luka dingin
- enteroviruses-virus
flu perut - ini telah menyebabkan polio di masa lalu juga bertanggung
jawab atas
- Gondok
virus
- Echovirus
- Coxsackie
virus
- Virus
herpes zoster
- Campak
virus
- Arbovirus
- Influenza
virus
- HIV
- Virus
West Nile
Penyebab lain dari meningitis meliputi:
- Meningitis
jamur-disebabkan oleh Cryptococcus, Histoplasma dan Coccidioides
spesies dan melihat pada pasien AIDS
- Parasit
yang menyebabkan meningitis-termasuk contoh meningitis eosinophilic yang
disebabkan oleh angiostrongyliasis
- Organisme
lainnya seperti tuberkulosis atipikal, sifilis, penyakit Lyme,
leptospirosis, listeriosis dan brucellosis, penyakit Kawasaki dan
Mollaret's meningitis
- Mungkin
ada tidak ada infeksi dan peradangan hanya meninges menuju bebas-infektif
meningitis. Hal ini disebabkan oleh tumor, leukemia, limfoma, obat dan
bahan kimia yang diberikan spinally atau epidurally selama anestesi atau
prosedur, penyakit seperti Sarkoidosis, sistemik lupus eritematosus dan
Behçet's penyakit dll.
B.
Distribusi Penyakit Meningitis
a. Orang/ Manusia
Umur dan daya tahan tubuh sangat
mempengaruhi terjadinya meningitis.Penyakit ini lebih banyak ditemukan pada
laki-laki dibandingkan perempuan dan distribusi terlihat lebih nyata pada bayi.
Meningitis purulenta lebih sering terjadi pada bayi dan anak-anak karena sistem
kekebalan tubuh belum terbentuk sempurna.Puncak insidensi kasus meningitis
karena Haemophilus influenzae di negaraberkembang adalah pada anak usia
kurang dari 6 bulan, sedangkan di Amerika Serikat terjadi pada anak usia 6-12
bulan. Sebelum tahun 1990 atau sebelum adanya vaksin untuk Haemophilus
influenzae tipe b di Amerika Serikat, kira-kira 12.000 kasus meningitis Hib
dilaporkan terjadi pada umur < 5 tahun.Insidens Rate pada usia < 5 tahun
sebesar 40-100 per 100.000.7 Setelah 10 tahun penggunaan vaksin, Insidens Rate
menjadi 2,2 per 100.000.9 Di Uganda (2001-2002) Insidens Rate meningitis Hib
pada usia < 5 tahun sebesar 88 per 100.000.28
b. Tempat
Risiko penularan meningitis umumnya
terjadi pada keadaan sosio-ekonomirendah, lingkungan yang padat (seperti
asrama, kamp-kamp tentara dan jemaah haji), dan penyakit ISPA.16 Penyakit
meningitis banyak terjadi pada negara yang sedang berkembang dibandingkan pada
negara maju. Insidensi tertinggi terjadi di daerah yang disebut dengan the
AfricanMeningitis belt, yang luas wilayahnya membentang dari Senegal sampai
ke Ethiopia meliputi 21 negara. Kejadian penyakit ini terjadi secara sporadis
dengan Insidens Rate 1-20 per 100.000 penduduk dan diselingi dengan KLB besar
secara periodik.Di daerah Malawi, Afrika pada tahun 2002 Insidens Rate
meningitis yang disebabkan oleh Haemophilus influenzae 20-40 per 100.000
penduduk.
c. Waktu
Kejadian meningitis lebih sering
terjadi pada musim panas dimana kasuskasusinfeksi saluran pernafasan juga
meningkat. Di Eropa dan Amerika utara insidensi infeksi Meningococcus lebih
tinggi pada musim dingin dan musim semi sedangkan di daerah Sub-Sahara
puncaknya terjadi pada musim kering. Meningitis karena virus berhubungan dengan
musim, di Amerika sering terjadi selama musim panas karena pada saat itu orang
lebih sering terpapar agen pengantar virus. Sebagian besar kasus terjadi pada
musim panas.
C.
Frekuensi
penyakit meningitis
Tersebar
di seluruh dunia; paling prevalens diantara amak umur 2 bulan sampai 3 tahun;
jarang terjadi pada usia 5 tahun. Di negara berkembang, puncak insidensi adalah
pada anak usia kurang dari 6 bulan; di Amerika Serikat pada anak usia 6-12
bulan. Sebelum adanya vaksin untuk Hib di Amerika Serikat, kira-kira 12.000
kasus meningitis Hib dilaporkan terjadi pada anak umur kurang dari 5 tahun
dibandingkan dengan hanya 25 kasus pada tahun 1998. Sejak tahun 1990-an, dengan
penggunaan vaksin secara luas pada anak-anak, meningitis yang disebabkan Hib
boleh dikatakan telah menghilang; sekarang banyak kasus terjadi pada orang
dewasa dibandingkan pada anak-anak. Kasus sekunder dapat terjadi di lingkungan
dan tempat penitipan anak.
2. epidemiology is “the mother science of
public health
EPIDEMIOLOGI
Dalam beberapa kamus umum menyebutkan bahwa
pengertian epidemiologi adalah ilmu tentang epidemi atau wabah. Epidemiologi
berasal dari bahasa Yunani.
Epi = pada atau tentang
demos = rakyat/penduduk
logos = ilmu
Jadi epidemiologi merupakan “ilmu yang mempelajari tentang hal-hal yang terjadi
pada rakyat”.
Batasan arti yang sudah berkembang dewasa ini mengartikan epidemiologi sebagai
ilmu tentang terjadinya dan penyebab dari suatu masalah kesehatan dan
faktor-faktor yang mempengaruhinya serta upaya-upaya penanggulangannya.
Epidemiologi adalah Ilmu yang mempelajari frekuensi dan penyebaran masalah
Kesehatan pada sekelompok manusia serta faktor yang mempengaruhinya.
Epidemiologi diartikan sebagai studi tentang epidemi. Hal ini berarti bahwa
epidemiologi hanya mempelajari penyakit-penyakit menular saja tetapi dalam
perkembangan selanjutnya epidemiologi juga mempelajari penyakit-penyakit non
infeksi, sehingga dewasa ini epidemiologi dapat diartikan sebagai studi tentang
penyebaran penyakit pada manusia di dalam konteks lingkungannya. Mencakup juga
studi tentang pola-pola penyakit serta pencarian determinan-determinan penyakit
tersebut. Epidemiologi adalah studi tentang distribusi dan faktor-faktor yang
menentukan keadaan yang berhubungan dengan kesehatan atau kejadian-kejadian
pada kelompok penduduk tertentu (Last, Beagehole et al,1993). Menurut Gordis (2000), epidemiologi
merupakan inti dari disiplin ilmu “Public Health”,tetapi juga relevan untuk
ilmu kedokteran klinis. Dengan kata lain epidemiology merupakan “the mother
science of public health” (Blakley,1990). Jadi dapat disimpulkan bahwa
epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang penyebaran penyakit serta
determinan-determinan yang mempengaruhi penyakit tersebut.
Untuk dapat memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan, mencegah dan
mengobati penyakit serta memulihkan kesehatan masyarakat perlu disediakan
dan diselenggarakan Pelayanan Kesehatan Masyarakat (Public Health Service )
yang sebaik – baiknya. Oleh karena itu pelayanan kesehatan masyarakat yang
diberikan harus sesuai dengan kebutuhan ( Health Needs ) dari masyarakat. Namun
dalam praktek sehari – hari ternyata tidaklah mudah untuk menyediakan dan
menyelenggarakan pelayanan kesehatan masyarakat yang maksimal. Masalah pokok
yang dihadapi adalah sulitnya merumuskan kebutuhan kesehatan yang ada dalam
masyarakat karena pola kehidupan masyarakat yang beraneka ragam sehingga
mengakibatkan kebutuhan kesehatan yang ditemukan juga beraneka ragam. Untuk
mengatasinya, telah diperoleh semacam kesepakatan bahwa perumusan kebutuhan
kesehatan dapat dilakukan jika diketahui masalah kesehatan yang ada di
masyarakat. Misalnya ; apabila dalam suatu masyarakat banyak ditemukan masalah
kesehatan berupa penyakit menular ( TBC ), maka pelayanan kesehatan yang
disediakan akan lebih diarahkan kepada upaya untuk mengatasi masalah penyakit menular
tersebut. Apabila hal ini kemudian dikaitkan dengan upaya untuk mengetahui
Frekwensi, Penyebaran dan Faktor – factor yang mempengaruhi suatu masalah
kesehatan dalam masyarakat, maka tercakup dalam suatu cabang Ilmu Khusus yang
disebut dengan Epidemiologi. Dan Epidemiologi ini merupakan inti dari Ilmu
Kesehatan Masyarakat.
Kata kunci dari epidemiologi :
1. Frekuensi yaitu menemukan masalah kesehatan di masyarakat dan
mengukur atau menghitung jumlah masalah kesehatan yang terjadi di masyarakat.
2. Penyebaran yaitu menunjuk kepada pengelompokan masalah
kesehatan menurut suatu keadaan tertentu. Keadaan tertentu yang dimaksudkan
dalam epidemiologi adalah :
a. Menurut Ciri – ciri Manusia ( MAN )
b. Menurut Tempat ( PLACE )
c. Menurut Waktu ( TIME )
3. factor determinan adalah menunjuk kepada factor penyebab
dari suatu penyakit / masalah kesehatan baik yang menjelaskan
Frekwensi, penyebaran ataupun yang menerangkan penyebab munculnya masalah
kesehatan itu sendiri. Dalam hal ini ada 3 langkah yang lazim dilakukan yaitu:
a. Merumuskan Hipotesa tentang penyebab yang dimaksud.
b. Melakukan pengujian terhadap rumusan Hipotesa yang telah
disusun.
c. Menarik kesimpulan.
3.
Fenomena
– Fenomena Epidemi, Pandemi, Endemi, dan Sporadiks
A.
Epidemi
Fenomena Nelayan Thailand dan
Epidemi HIV di Kalimantan Barat
Catatan: Tulisan ini menggambarkan pandangan dan pemahaman terkait
dengan penyebaran HIV/AIDS di tahun 2001. Gambaran ini bisa menjadi
perbandingan tentang pandangan dan pemahaman terhadap HIV/AIDS di tahun 2013.
Redaksi.
Jakarta, 8/11-2001. Dalam laporan
bulanan kasus kumulatif kasus HIV/AIDS yang dikeluarkan Ditjen PPM&PL,
Depkeskesos, sampai Juli 2001 tercatat 50 kasus HIV/AIDS di Kalimantan Barat
(Kalbar) yang terdiri atas 49 HIV (28 di antaranya nelayan asing yang sudah
dipulangkan ke negaranya) dan 1 AIDS dengan kematian 1. Epidemi HIV di Kalbar
selalu dikait-kaitkan dengan kehadiran nelayan Thailand.
Di salah satu sesi pada Kongres
AIDS Internasional Asia Pasifik IV 1997 di Manila, Filipina, pembicara dari
Indonesia, ketika itu alm. dr. Hadi M. Abednego, waktu itu Dirjen PPM&PLP
Depkes, diprotes oleh seorang remaja Thailand, waktu itu berusia 17 tahun,
aktivis di Population Council Thailand, karena menyebutkan penularan HIV di Merauke,
Papua (d/h. Irian Jaya) terjadi karena kehadiran nelayan Thailand.
Soalnya, menurut gadis itu,
mobilitas penduduk Merauke juga perlu diperhitungkan. Penduduk dari daerah lain
di Indonesia juga, ‘kan, datang ke sana. Dia sangat menyesalkan cara penyajian
yang mengait-ngaitkan sebuah bangsa dengan epidemi HIV karena tidak hanya
nelayan Thailand yang mengunjungi Merauke. Penduduk dari daerah dan negara lain
pun ada yang datang Merauke. Begitu pula dengan penduduk Merauke tentu saja
mereka juga bepergian pula ke luar daerahnya.
Bertolak dari fakta di atas
tentulah cara-cara yang selalu menyalahkan pihak lain dan menuding nelayan
suatu bangsa sebagai penyebar HIV tidak etis dan hal itu pun merupakan
penyangkalan terhadap epidemi HIV yang sudah ada di depan mata dan
penyebarannya pun sudah terjadi secara horizontal antara penduduk setempat.
Bisa saja ada penduduk Kalbar yang tertular HIV di luar daerah atau di luar
negeri, atau sebaliknya ada penduduk dari daerah lain atau negara lain yang
menulari penduduk Kalbar.
Dalam masalah HIV/AIDS seseorang
berisiko tertular HIV jika (1) melakukan hubungan seks (sanggama) baik
heteroseks, homoseks, seks anal dan oral tanpa kondom dengan pasangan yang
berganti-ganti di dalam dan di luar nikah, (2) melakukan hubugnan seks
(sanggama) baik heteroseks, homoseks, seks anal dan oral tanpa kondom dengan
seseorang yang berganti-ganti pasangan di dalam dan di luar nikah, (3) menerima
transfusi darah yang tidak diskrining HIV, dan (4) memakai jarum suntik dan
semprit secara bersama dengan bergantian.
Maka biar pun prevalensi HIV/AIDS
di Kalbar per 100.000 penduduk 0,02 tetapi kalau seseorang melakukan
kegiatan-kegiatan yang berisiko maka kemungkinan tertular pun tetap ada.
Probabilitas (kemungkinan) tertular HIV melalui sanggama yang tidak aman antara
pria dengan wanita yang HIV-positif berkisar antara 0,03-5,6 persen untuk
setiap kontak, tetapi karena hubungan seks sering dilakukan, apalagi dengan
pasangan yang berganti-ganti atau dengan orang yang suka berganti-ganti pasangan,
maka risiko tertular pun meningkat pula.
Namun, biar pun HIV/AIDS
merupakan fakta medis tetapi tidak sedikit orang, termasuk jajaran Depkes, yang
panik. Misalnya, ada pernyataan Kakanwil Depkeskesos Kalbar yang mengatakan
akan mengetes darah penduduk Kepulauan Karimata, Kabupaten Ketepang hanya
karena ada nelayan Thailand yang mampir ke pulau itu jelas tidak rasional.
Soalnya, belum tentu semua penduduk melakukan kegiatan berisiko, seperti bayi
dan orang-orang yang sudah uzur. HIV tidak menular melalui pergaulan sosial.
Sebagai virus, HIV hanya bisa
hidup di dalam larutan yaitu darah, sperma dan cairan vagina. HIV tidak bisa
disebar-sebarkan karena hanya menular melalui cara-cara yang sangat spesifik
yaitu (1) melalui hubungan seks (sanggama) baik heteroseks, homoseks, seks anal
dan oral tanpa kondom dengan seseorang yang HIV-positif di dalam dan di luar
nikah yang sah, (2) melalui transfusi darah yang sudah tercemar HIV, (3)
melalui jarum suntik dan alat-alat kesehatan yang tercemar HIV, dan (4) dari
seorang wanita yang HIV-positif kepada bayi yang dikandungnya terutama saat
persalinan dan menyusui.
Fenomena Gunung Es
Laporan resmi pemerintah melalui
Ditjen P2M&PL Depkessos sampai tanggal 31 Mei 2001 menunjukkan kasus
kumulatif HIV/AIDS dengan faktor risiko hubungan seks adalah (a) heteroseks
atau antara pria dan wanita adalah 54,62%, (b) homoseks adalah 6,44%. Lagi pula
yang perlu diingat tidak semua hubungan seks heteroseks di luar nikah. Dalam
agama Islam nikah sah jika sudah memenuhi rukun yaitu (1) ada calon suami, (2)
ada calon istri, (3) wali, (4) dua saksi, dan (5) ijab dan kabul. Jadi, biar pun tidak dicatat di KUA pernikahan tetap sah.
Bukti lain menunjukkan ada 27
ibu-ibu rumah tangga yang terikat dalam perkawinan yang sah terinfeksi HIV di
13 provinsi (Media Indonesia, 6/7-2000). Selain itu penelitian Yayasan
Pelita Ilmu (YPI), Jakarta, terhadap 537 wanita hamil melalui tes sukarela
dengan konseling di rumah sakit, klinik bersalin, klinik keluarga dan puskesmas
di Jakarta (2000) menunjukkan 6 di antaranya positif HIV (Media Indonesia,
2/12-2000)
Lagi pula
tidak ada dasar hukum yang mengharuskan penduduk menjalani tes HIV dan tidak
ada pula kekuatan hukum yang membuat Kakanwil melakukan tes HIV kepada
penduduk. Jika ini terjadi berarti merupakan perbuatan yang melawan hukum dan
melanggar hak asasi manusia (HAM). Kalau nelayan yang mampir di pulau itu
diketahui ada yang HIV-positif, maka kepada penduduk yang melakukan
perilaku-perilaku yang berisiko tinggi dianjurkan menjalani tes HIV secara
sukarela dan bersifat anonim dengan disertai konseling prates dan pasca tes.
Hal yang sama bukan hanya kepada penduduk di pulau itu, tetapi dianjurkan juga
kepada semua orang yang (pernah) melakukan perilaku berisiko, terutama di
tempat-tempat yang prevalensi HIV-nya tinggi.
Karena HIV/AIDS merupakan fakta
medis yang dapat diuji di laboratorium, maka tidak ada alasan untuk
menduga-duga seseorang sudah tertular HIV biar pun ada gejala-gejala minor dan
mayor yang terkait dengan AIDS karena status HIV hanya dapat diketahui melalui
diagnosis tes HIV. AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah kondisi
sistem kekebalan tubuh seseorang yang sudah dirusak oleh HIV (Human
Immunodeficiency Virus) yang ditandai dengan lebih dari 70 jenis penyakit
infeksi oportunistik. Masa AIDS terjadi antara 7-12 tahun setelah seseorang
tertular HIV.
Sebagai daerah yang berbatasan
langsung dengan dunia luar muncul pula kesan Kalbar sebagai daerah rawan
HIV/AIDS. Ini pun jelas mitos karena rawan atau tidak rawan bukan karena letak
geografis tetapi sangat dipengaruhi oleh kegiatan-kegiatan penduduk apakah
mereka melakukan kegiatan berisiko atau tidak. Jadi, biar pun banyak turis
asing yang datang ke Kalbar kalau penduduk menghindarkan diri dari kegiatan
berisiko maka tidak akan pernah terjadi penyebaran HIV.
Banyak negara yang “terisolir”
dari dunia luar, tidak ada bar, karaoke, panti pijat dan tidak ada pula
lokalisasi pelacuran tetapi tetap saja ada kasus HIV/AIDS. Dalam laporan
WHO/UNAIDS (Report on global HIV/AIDS epidemic, Juni, 1998), misalnya,
sampai akhir tahun 1997 Arab Saudi sudah melaporkan 334 kasus AIDS, Bahrain 37,
Brunei 10, Irak 104, Iran 154, Kuwait 24, Mesir 153, Qatar 85, Uni Emirat Arab
8. Hal ini bisa saja terjadi karena penduduk negara yang bersangkutan bisa saja
melakukan kegiatan-kegiatan berisiko tinggi tertular HIV di luar negaranya.
Karena epidemi HIV erat kaitannya
dengan fenomena gunung es (iceberg phenomenon) artinya angka yang muncul hanya
merupakan sebagian kecil dari angka yang tidak terdeteksi maka diperlukan suatu
sistem untuk mendapatkan angka yang realistis melalui surveilans tes HIV.
Angka-angka yang muncul merupakan prevalensi HIV (epidemi suatu penyakit pada
waktu tertentu dan pada kalangan tertentu). Malaysia, misalnya, melakukan tes
rutin terhadap pasien klinik PMS (penyakit-penyakit menular seksual, seperti
kencing nanah/GO, sifilis, hepatitis B), wanita hamil, polisi, narapidana, dan
pasien TB. Sedangkan di Indonesia surveilans hanya dilakukan terhadap pekerja
seks dan waria itu pun hanya sporadis.
Materi Kampanye
Maka tidak mengherankan kelau
kemudian angka yang muncul di Indonesia tidak realistis. Sampai 31 Mei 2001,
umpamanya, kasus kumulatif HIV/AIDS yang dikeluarkan Ditjen P2M&PL,
Depkeskesos, di Indonesia yang berpenduduk 200 juta baru mencapai 1.956 (angka
ini termasuk orang asing yang terdeteksi di Indonesia yaitu 277, tidak
diketahui 68 dan tidak disebut 47, dan tes surveilans). Bandingkan dengan
Malaysia yang sampai penghujung tahun 1999 saja sudah dilaporkan 31.126 kasus
HIV/AIDS ke Departemen Kesehatan yang terdiri atas 25.796 HIV, 3.003 AIDS dan
2.327 meninggal.
Surveilans terhadap pekerja seks
sering pula melanggar hak asasi manusia (HAM) karena tidak sesuai dengan
standar prosedur operasi tes HIV yang sudah disepakati secara internasional,
antara lain harus menerapkan asas anonimitas (contoh darah tidak boleh
diberikan kode atau tanda yang memungkinkan seseorang mengetahui identitas
pemilik contoh darah tsb.) dan disertai dengan konseling sebelum dan sesudah
tes.
Prevalensi dikeperlukan untuk
epidemiologis, seperti perencaan kebijakan pencegahan dan pengoatan. Prevalensi
HIV diketahui melalui surveilans tes, sedangkan untuk pengobatan dan perawatan
status HIV seseorang diketahui melalui diagnosis dengan tes HIV yang sesuai
dengan standar prosedur operasi. Jadi, tidak perlu mencari-cari status HIV
pendudu, misalnya dengan menjalankan tes terhadap calon TKI. Tes untuk calon
TKI dapat dilakukan dalam kerangka surveilans untuk mendapatkan gambaran
epidemi di kalangan calon TKI.
Dalam masalah HIV/AIDS akan lebih
baik kalau yang dikedepankan fakta medis karena pembicaraan HIV/AIDS di luar
fakta medis akan menyuburkan mitos (anggapan yang keliru) sehingga usaha untuk
memutus mata rantai epidemi HIV pun tidak akan berhasil. Mitos yang sudah
berkembang, misalnya, HIV menular melalui zina, hubungan seksual menyimpang dan
pengunaan obat-obatan terlarang, dll. Hal ini jelas salah kaprah karena
tidak ada kaitan langsung antara penularan HIV dengan zina. Dalam ikatan
pernikahan yang sah pun bisa terjadi penularan HIV jika salah satu pasangan
tersebut HIV-positif dan hubungan seks dilakukan tanpa kondom.
Dalam kaitan peningkatan
kewaspadaan terahdap epidemi HIV diperlukan kampanye yang efektif, antara lain
melalui KEI (komunikasi, edukasi dan informasi). Persoalannya, selama ini
materi KIE seputar HIV/AIDS tidak objektif. Misalnya, cara mengindari HIV
disebutkan jangan berzina atau jangan melakukan hubungan seks di luar nikah.
Ini jelas tidak akurat karena penularan HIV melalui hubungan seks terjadi jika
salah satu dari pasangan itu HIV-positif dan sanggama dilakukan tanpa kondom di
dalam atau di luar nikah. HIV/AIDS pun selalu dikait-kaitkan dengan moral dan
agama. Padahal, dalam kaitan pencegahan diperlukan KIE yang akurat, objektif
dan fair.
Jadi, jangan
heran kalau 11 tentara Indonesia yang dikirim sebagai pasukan perdamaian PBB ke
Kamboja tertular HIV di sana (GATRA, 5/8-2000). Sebaliknya, tentara Belanda
tidak ada yang terular HIV. Mengapa hal ini bisa terjadi? Rupanya, tentara
Indonesia hanya dibekali dengan senapan dan wejangan, sedangkan tentara Belanda
selain membawa bedil juga dipersenjatai dengan kondom untuk melindungi “si
kecil”. Soalnya, ketika itu prevalensi HIV di kalangan pekerja seks di Kamboja
antara 32-64 persen sehingga risiko tertular sangat besar.***
- AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap
B. Pandemi
Pandemi Mematikan di Dunia
Oleh: Jalaksana Winangoen
[UNIKNYA.COM]:
Umat manusia pernah dirundung masa kelam, ketika dunia medis kedokteran
perkembangannya masih sangat terbatas. Beberapa wabah pandemik, tercatat teleh
menyebabkan kematian hingga puluhan juta orang di belahan dunia hingga kurun
waktu tertentu. Berikut adalah 5 pandemi mematikan yang pernah melanda dunia:
1. Wabah Hitam
Kematian
Hitam atau Wabah Hitam, adalah suatu pandemi hebat yang pertama kali melanda
Eropa pada pertengahan hingga akhir abad ke-14 (1347 – 1351) dan membunuh
sepertiga hingga dua pertiga populasi Eropa. Pada saat yang hampir bersamaan,
terjadi pula epidemi pada sebagian besar Asia dan Timur Tengah, yang
menunjukkan bahwa peristiwa di Eropa sebenarnya merupakan bagian dari pandemi
multi-regional. Jika termasuk Timur Tengah, India, dan Tiongkok, Kematian Hitam
telah merenggut sedikitnya 75 juta nyawa. Penyakit yang sama diduga kembali
melanda Eropa pada setiap generasi dengan perbedaan intensitas dan tingkat
fatalitas yang berbeda hingga dasawarsa 1700-an. Penyakit ini berhasil
dimusnahkan di Eropa pada awal abad ke-19, tapi masih berlanjut pada bagian
lain dunia (Afrika Tengah dan Oriental, Madagaskar, Asia, beberapa bagian
Amerika Selatan).
wabah hitam (sumber:
medusakick.blogspot)
wabah hitam (Sumber: solarnavigator)
Kejadian
awal di Eropa awalnya disebut sebagai “Mortalitas Besar” (Great Mortality)
oleh para penulis kontemporer. Nama “Kematian Hitam” umumnya dianggap berasal
dari gejala khas dari penyakit ini, yang disebut acral necrosis, di mana
kulit penderita menjadi menghitam karena pendarahan subdermal. Catatan sejarah telah membuat sebagian besar ilmuwan meyakini bahwa
Kematian Hitam adalah suatu serangan wabah bubonik yang disebabkan bakteri Yersinia
pestis dan disebarkan oleh lalat dengan bantuan hewan seperti tikus hitam (Rattus
rattus), walaupun ada juga kalangan yang menyangsikan kebenaran hal ini.
2. Pandemik Flu 1918
Pandemik
flu 1918 (biasanya disebut flu Spanyol) adalah pandemik influenza kategori 5
yang mulai menyebar di Amerika Serikat, muncul di Afrika Barat dan Perancis,
lalu menyebar hampir ke seluruh dunia. Penyakit ini disebabkan oleh virus
Influenza A subtipe H1N1. Kebanyakan korban flu ini adalah dewasa muda. Flu
Spanyol terjadi dari Maret 1918 sampai Juni 1920, menyebar sampai ke Arktik dan
kepulauan Pasifik. Diperkirakan 50 sampai 100 juta orang di seluruh dunia
meninggal.
Pandemik Flu 1918 (sumber:
actionspeaksradio.org)
Pandemik Flu 1918 (Sumber:
oaklandgenealogy)
3. Wabah Justinianus
Wabah
Justinianus adalah pandemik yang menyerang Kekaisaran Romawi Timur (Kekaisaran Bizantium),
termasuk ibukotanya Konstantinopel, pada tahun 541–542 M. Penyebabnya
kemungkinan adalah wabah pes, yang kemudian menjadi tidak populer karena
menyebabkan wabah “Kematian Hitam” pada abad ke-14. Pengaruh sosial dan
kultural dari wabah ini dapat disamakan dengan Kematian Hitam. Dalam pandangan
sejarawan abad keenam, cakupan wabahnya hampir seluruh dunia, terutama
menyerang Asia Selatan dan Tengah, Afrika Utara dan Arabia, dan Eropa (di utara
sejauh Denmark dan di barat sejauh Irlandia. Studi genetis mengarah pada Cina
sebagai sumber utama penularan.
Wabah Justinianus (Sumber:
2leep.co.uk)
Wabah Justinianus(Sumber:
memphisfranks.glogster.)
Sampai sekitar tahun 750, wabah ini
kembali di tiap generasi di Mediterania. Gelombang penyakit juga berpengaruh
terhadap masa depan sejarah Eropa. Sejarawan modern menamai wabah ini
berdasarkan nama Kaisar Romawi Justinianus I, yang berkuasa pada saat itu.
Justinianus I juga mengidap penyakit tersebut, namun merupakan satu dari
sedikit orang yang berhasil bertahan hidup.
4. Penyakit Pes
Penyakit
pes adalah penyakit zoonosis, yang bersumber dari tikus kecil dan kutu-nya, dan
merupakan salah satu dari tiga jenis infeksi yang disebabkan oleh Yersinia
pestis (sebelumnya dikenal sebagai Pasteurella pestis), yang termasuk dalam
keluarga Enterobacteriaceae. Wabah pes membunuh sekitar dua dari tiga manusia
yang terjangkit dalam waktu 4 hari. Istilah wabah pes berasal dari Bubo kata
Yunani, berarti “kelenjar bengkak”. Kelenjar getah bening (buboes) terutama terjadi
di ketiak dan pangkal paha pada orang yang menderita wabah pes. Penyakit pes
sering digunakan secara sinonim untuk wabah, tetapi sebenarnya merujuk secara
khusus untuk infeksi yang masuk melalui kulit dan berjalan melalui limfatik,
seperti yang sering terlihat pada infeksi kutu-borne. Penyakit pes umumnya
diyakini menjadi penyebab Kematian Hitam yang melanda Eropa pada abad ke-14 dan
menewaskan sekitar 75 juta orang diperkirakan, 30-60% dari populasi Eropa
bersama dengan wabah septicemia dan wabah pneumonia. Karena wabah membunuh
begitu banyak penduduk yang bekerja, upah naik dan beberapa sejarawan telah
melihat ini sebagai titik balik dalam pembangunan ekonomi Eropa.

Penyakit PES (Sumber: blog.larkin)
5. Wabah Antoninus
Wabah
Antoninus, AD 165-180, juga dikenal sebagai Wabah Galen, adalah pandemi kuno,
baik dari cacar atau campak, dibawa ke Kekaisaran Romawi oleh pasukan yang
kembali dari peperangan di Timur Dekat. Nama Antoninus, diberikan pada wabah
ini, setelah kaisar terjangkit dan meninggal karena wabah ini. Penyakit ini
kembali melanda sembilan tahun kemudian, menurut sejarawan Romawi Cassius Dio,
dan menyebabkan kematian hingga 2.000 orang di Roma. Jumlah kematian telah
diperkirakan mencapai lima juta orang. Sumber Kuno setuju bahwa epidemi muncul
selama pengepungan Romawi atas Seleukia di musim dingin tahun 165-66. (**)
C. Endemi
Malaria, pembunuh terbesar sepanjang abad
Oleh Ermi ML Ndoen *
MALARIA kembali memakan korban. Dalam dua
minggu terakhir Pulau Sabu dan Pulau Semau menjadi saksi kembali mengganasnya
penyakit yang telah berumur ribuan tahun ini. Tercatat, tidak kurang dari 1.730
orang Sabu (Pos Kupang 06/05) dan 556 orang Semau (Pos Kupang
05/05) positif malaria. Dari jumlah ini sedikitnya delapan bocah di Desa
Uitiuana, Kecamatan Semau, akhirnya menyerahkan nyawanya direnggut keganasan
penyakit ini.
Kejadian luar biasa malaria di Kabupaten Kupang
akhir-akhir ini juga merupakan suatu pukulan yang sangat berat bagi sektor
kesehatan dan masyarakat NTT tentunya — di tengah tingginya beban ekonomi
sehari-hari dan pro kontra naiknya tarif berobat di Rumah Sakit Umum Prof.
Yohanes-Kupang. Kejadian kali ini juga merupakan suatu tamparan bagi Kabupaten
Kupang, karena di kabupaten inilah enam tahun yang lalu, tepatnya pada 8 April
2000, bertempat di Desa Babau, Dr. Achmad Sujudi, Menteri Kesehatan RI saat itu
— didampingi Kepala Perwakilan WHO untuk Indonesia Dr. Georg Petersen –
mencanangkan dimulainya Gerakan Berantas Kembali Malaria atau “GEBRAK MALARIA”
secara nasional. Suatu gerakan nasional yang diharapkan dapat menekan penyakit
malaria dengan melibatkan berbagai komponen atau elemen masyarakat. Namun
ternyata gerakan ini masih belum berhasil mengontrol kasus malaria. Suatu momen
sejarah yang sebenarnya harus dikenang secara manis, ternyata harus diperingati
dengan kenyataan pahit. Malaria kembali menjadi masalah di kawasan ini.
Penyakit malaria tidak hanya menjadi masalah
Kabupaten Kupang. Penyakit ini merupakan salah satu masalah kesehatan
masyakarat utama di seluruh dunia. Dalam buku The World Malaria Report 2005,
Badan Kesehatan Dunia (WHO), menggambarkan walaupun berbagai upaya telah
dilakukan, hingga tahun 2005 malaria masih menjadi masalah kesehatan utama di
107 negara di dunia. Penyakit ini menyerang sedikitnya 350-500 juta orang
setiap tahunnya dan bertanggung jawab terhadap kematian sekitar 1 juta orang
setiap tahunnya. Diperkirakan masih sekitar 3,2 miliar orang hidup di daerah
endemis malaria. Malaria juga bertanggung jawab secara ekonomis terhadap
kehilangan 12 % pendapatan nasional, negara-negara yang memiliki malaria.
Di Indonesia sendiri, diperkirakan 50 persen
penduduk Indonesia masih tinggal di daerah endemis malaria. Menurut perkiraan
WHO, tidak kurang dari 30 juta kasus malaria terjadi setiap tahunnya di
Indonesia, dengan 30.000 kematian. Survai kesehatan nasional tahun 2001
mendapati angka kematian akibat malaria sekitar 8-11 per 100.000 orang per
tahun. United Nation Development Program (UNDP,2004) juga mengklaim
bahwa akibat malaria, Indonesia sedikitnya mengalami kerugian ekonomi sebesar $
56,6 juta pertahun.
Secara nasional, Propinsi NTT merupakan propinsi
dengan angka kesakitan malaria tertinggi. Data Depkes RI tahun 2005 menunjukkan
bahwa NTT memiliki angka kesakitan malaria 150 per 1.000 orang per tahun,
diikuti oleh Papua, 63,91 kasus per 1000 penduduk per tahun. Di tahun 2004,
dilaporkan tidak kurang dari 711.480 kasus malaria klinik terjadi di NTT,
dimana 20% dari 75.000 slide darah yang diperiksa positif malaria. Bahkan data
Depkes (2000) menunjukkan bahwa tidak kurang dari 73% kasus yang diobati di
puskesmas dan rumah sakit di NTT adalah malaria. Dinas Kesehatan NTT juga
mencatat bahwa khusus untuk Kabupaten Kupang, rata-rata kasus malaria klinis
dari tahun 2002-2004 mencapai 181 kasus per 1.000 orang pertahun, bahkan di
tahun 2004 mencapai 205 kasus per 1.000 orang pertahun. Angka ini menunjukkan
bahwa untuk daratan Timor, Kabupaten Kupang menempati rangking tertinggi
kejadian malaria klinis setiap tahunnya.
Sebenarnya, apa dan bagaimana penyakit malaria?
Kenapa setelah ribuan tahun penyakit ini masih menjadi momok yang menakutkan
bagi sebagian besar umat manusia? Andrew Spieldman dan Michael D’Antonio, dalam
novelnya yang berjudul “Mosquito – The Story of Man’s Deadliest Foe”
menggambarkan bahwa “tidak ada satu pun binatang di muka bumi ini yang
menyentuh secara langsung dan sebegitu dalamnya mempengaruhi kehidupan dan
takdir sebagian besar amat manusia”. Kedua novelist ini menggambarkan bahwa
ternyata nyamuk — seekor makluk kecil yang mungkin dengan sekali tepukan bisa
dimatikan – sepanjang sejarah kehidupan, telah menjadi pengganggu dan bahkan
pembunuh nomor satu umat manusia di seluruh dunia. Sejak hadirnya, nyamuk telah
mengalahkan begitu banyak pemimpin perang besar di zaman dahulu, termasuk
Napoleon dan pasukannya. Bahkan disebutkan bahwa dalam Perang Dunia I, prajurit
Inggris yang mati karena digigit “nyamuk” malaria lebih banyak dari yang mati
karena tertembak peluruh musuh. Tidak hanya sampai di situ, Sandosham (1965),
salah satu malarioligist ternama juga menggambarkan bahwa nyamuk dan malaria
juga telah mengalahkan banyak raja besar Romawi pada zaman Alexander the Great.
Tidak hanya prajurit dan raja, nyamuk dan malaria juga ikut membunuh para Paus,
pemimpin agama dan negara lainnnya serta tentunya jutaan umat manusia di
seluruh muka bumi.
Harrison juga dalam bukunya “Mosquito,
Malaria and Man. – A History of Hostilities Since” menggambarkan malaria
sebagai “the ancient deadly disease”. Memang, sejarah perkembangan
malaria hampir sama tuanya dengan sejarah kehadiran manusia di muka bumi. Para
ahli memperkirakan bahwa malaria kemungkinan berawal dari Afrika sekitar 12.000
– 17.000 tahun yang lalu. Dari benua ini, malaria kemudian menyebar ke suluruh
dunia, terutama di daerah tropis,sejalan dengan sejarah dimulai penjelajahan
umat manusia menemukan dan menaklukkan daerah-daerah baru, perdagangan serta
sejarah penjualan budak-budak Afrika pada zaman dulu ke Amerika dan
daerah-daerah lainnya.
Malaria juga sudah dikenal oleh para dokter pada
zaman China kuno sekitar tahun 2700 sebelum masehi. Adalah Hippocrates, sang
bapak kedokteran, yang pertama kali menggambarkan gejala-gejala klinis malaria
pada sekitar abab IV Masehi. Kata malaria sendiri berasal dari bahasa Itali, “mal’aria”.
Pada zaman dulu, orang beranggapan bahwa malaria disebabkan oleh udara yang
kotor. Sementara di Perancis dan Spanyol, malaria dikenal dengan nama “paladisme
atau paludismo“, yang berarti daerah rawa atau payau karena penyakit
ini banyak ditemukan di daerah pinggiran pantai. Saking terkenalnya penyakit
malaria, William Shakespeare, salah satu penulis Inggris yang paling terkenal
sepanjang abad 16-17, juga telah menggambarkan penyakit malaria dalam salah
satu karyanya sebagai “The Caliban Curse“. Caliban adalah salah satu
budak Afrika yang dikutuk dalam karya Shakespeare, The Tempest (1611).
Pertanyaan sekitar penyebab penyakit malaria
akhirnya dijawab oleh Ronald Ross, seorang dokter militer Ingris yang bertugas
di India pada tahun 1897. Ross berhasil membuktikan bahwa ternyata malaria
tidak disebabkan oleh udara kotor tetapi akibat gigitan nyamuk anopheles.
Secara teoritis, cukup hanya dengan satu kali gigitan nyamuk anophles seseorang
sudah bisa terjangkit malaria, jika nyamuk ini mengadung parasite malaria.
Berkat penemuannya, Ross akhirnya memenangkan hadiah Nobel.
Penyakit malaria sebenarnya merupakan sejenis
penyakit yang disebabkan oleh parasite yang dikenal dengan nama plasmodium.
Parasite ini mempunyai empat jenis yaitu plasmodium falciparum,
penyebab malaria tropikana dan merupakan jenis malaria yang paling berbahaya
dengan tingkat kematian tinggi. Jenis, plasmodium yang kedua adalah plasmodium
vivax, penyebab malaria jenis tertiana. Selanjutnya, plasmodium
malarie, dan plasmodium ovale, masing-masing penyebab malaria
jenis quartana dan ovale. Kedua jenis malaria pertama adalah merupakan jenis
malaria yang paling banyak ditemukan di Indonesia.
Kenapa sulit dikontrol?
Walaupun ditularkan oleh nyamuk, penyakit malaria
sebenarnya merupakan suatu penyakit ekologis. Penyakit ini sangat dipengaruhi
oleh kondisi-kondisi lingkungan yang memungkinkan nyamuk untuk berkembang biak
dan berpotensi melakukan kontak dengan manusia dan menularkan parasit malaria.
Contoh faktor-faktor lingkungan itu antara lain hujan, suhu, kelembaban, arah
dan kecepatan angin, ketinggian. Air merupakan faktor esensial bagi
perkembang-biakan nyamuk. Karena itu dengan adanya hujan bisa menciptakan
banyak tempat perkembangbiakan nyamuk akibat genangan air yang tidakdialirkan
di sekitar rumah atau tempat tinggal. Nyamuk dan parasit malaria juga sangat
cepat berkembang biak pada suhu sekitar 20-27 derajat C, dengan kelembaban
60-80 %. Karena itu iklim di NTT memiliki kondisi suhu dan kelembaban yang
ideal untuk perkembangbiakan nyamuk dan parasit malaria.
Secara teoritis, nyamuk bisa terbang sampai 2-3
km, namun pengaruh angin, jarak terbang nyamuk bisa mencapai 40 km. Bahkan
dengan perkembangan sarana transportasi, nyamuk bisa mencapai daerah yang jauh
dengan menumpang alat transportasi. Para ahli juga memperkirakan bahwa
perubahan iklim global telah turut mempengaruhi penyebaran nyamuk malaria.
Nyamuk anopheles yang biasanya hanya ditemukan di daerah dataran rendah
sekarang bahkan bisa ditemukan di daerah pengunungan, yang tingginya di atas
2000 m dari permukaan laut.
Salah satu faktor lingkungan yang juga
mempengaruhi peningkatan kasus malaria adalah penggundulan hutan, terutama
hutan-hutan bakau di pinggir pantai. Akibat rusaknya lingkungan ini, nyamuk
yang umumnya hanya tinggal di hutan, dapat berpindah ke pemukiman manusia. Di
daerah pantai, kerusakan hutan bakau dapat menghilangkan musuh-musuh alami
nyamuk sehingga kepadatan nyamuk menjadi tidak terkontrol.
Malaria juga sulit diberantas karena keberadaan
nyamuk itu sendiri yang mencapai ratusan spesies. Tidak kurang dari 400 jenis
nyamuk anopheles hidup di muka bumi. Dari jumlah ini, “hanya” 80 jenis yang
dapat menularkan malaria. Indonesia memiliki sekurang-kurangnya 20 jenis
anopheles; dimana 9 spesies di antaranya ditemukan di daerah NTT.
Faktor lain yang turut memperparah kondisi
malaria di dunia, termasuk di Indonesia adalah akibat resistensi nyamuk
terhadap insektisida dan obat anti malaria. Zaman dulu DDT merupakan
insektisida yang sangat ampuh membunuh nyamuk malaria dan berhasil menekan
kasus malaria di berbagai belahan bumi. Namun belakangan diketahui bahwa
ternyata nyamuk telah menjadi kebal dengan DDT dan juga pengaruh negatif DDT
terhadap kematian serangga lain yang ternyata secara ekologis berguna bagi
manusia. Karena itu DDT akhirnya dilarang dan tindakan penyemprotan rumah untuk
tindakan anti malaria menggunakan insektisida lain yang lebih mahal. Akibatnya
tindakan penyemprotan merupakan kebijakan paling akhir yang baru bisa diambil
jika cara lainnya dianggap gagal dan hanya dalam keadaan kejadian luar biasa
atau wabah. Tentunya harus didahului dengan survai entomologis untuk mengetahui
secara pasti kebiasaan dan perilaku nyamuk malaria sebelum disemprot.
Pada zaman dulu, klorokuin merupakan obat anti
malaria yang paling ampuh yang dipakai untuk mengobati malaria. Dewasa ini,
klorokuin juga mulai kehilangan keampuhannya akibat resistensi parasit malaria
terhadap klorokuin. Kondisi ini terjadi karena pola pengobatan dan dosis
klorokuin yang sering tidak sesuaistandar. Sekarang untuk pengobatan malaria
mulai memakai obat baru yang dikenal dengan sebutan artemisinin combination
treatment atau ACT. Untuk itu, agar tidak terjadi resisten pengobatan lagi,
sangat diharapkan para petugas kesehatan memberikan dosis pengobatan yang tepat
dan juga pasien atau masyarakat harus taat minum obat sesuai dosis yang
disarankan. Jangan karena merasa sudah sembuh, lantas pengobatan dihentikan.
Ini akan sangat berbahaya karena dapat menimbulkan resistensi obat malaria di
masa depan.
Cara terakhir untuk mengontrol malaria secara
“mudah dan murah” adalah upaya proteksi diri dan keluarga terhadap gigitan
nyamuk malaria. Marilah kita secara bersama-sama memperhatikan lingkungan
sekitar kita.
Bebaskan rumah dan tempat tinggal kita dari
genangan air atau tutuplah tempat-tempat penampungan air yang bisa menjadi
sarang nyamuk. Biasakanlah tidur dengan menggunakan kelambu atau baju lengan
panjang. Jangan biarkan terjadi kontak antara nyamuk dengan diri Anda.
Selanjutnya, jika Anda sakit, cepatlah mencari pengobatan sehingga Anda tidak
menjadi sumber penuluran bagi keluarga dan tetangga Anda. Yang paling penting,
minumlah obat sesuai dosis yang diberikan sampai habis. Jangan biarkan malaria
merongrong kehidupan kita terus. Mari berantas nyamuk untuk memberikan masa
depan yang lebih baik bagi generasi kita.
* Penulis, PNS pada Dinas Kesehatan NTT
D. Sporadiks
Necrotic
Enteritis (NE) merupakan jenis penyakit yang belakangan ini fenomenanya
cenderung mengalami peningkatan kasus cukup signifikan dilapangan. Kasus NE
tercatat banyak menimbulkan permasalahan pada peternakan ayam broiler modern,
namun demikian cukup banyak juga dilaporkan terjadi pada peternakan ayam
petelur komersial serta breeder (peternakan ayam pembibitan).
Kasus NE secara langsung menyebabkan gangguan fungsi sistem pencernaan,
sehingga dinilai sangat merugikan secara ekonomis berkenaan dengan gangguan
efesiensi pakan (FCR yang meningkat cukup signifikan) dan gangguan pertumbuhan
serta sejumlah kematian. Dari sisi biaya yang harus dikeluarkan oleh peternak
ayam broiler untuk pengobatan terhadap NE, untuk setiap ekor ayamnya dapat
mencapai antara Rp 400 – 500 tergantung derajat keparahan penyakit, lama waktu
pengobatan serta umur ayam saat dilakukan pengobatan.
Necrotic Enteritis merupakan salah satu penyakit infeksius yang disebabkan oleh
bakteri jenis Clostridium perfringens, dimana tergolong bakteri
gram-positif, bersifat anaerobic, umum dapat ditemukan di tanah, litter,
debu dan pada level yang rendah ditemukan dalam usus ayam sehat. Clostridium
perfringens hanya akan menyebabkan NE bila karena kondisi yang mendukung
dalam saluran pencernaan ayam, bakteri tersebut berubah sifat dari type yang
tidak memproduksi toksin menjadi type yang mampu memproduksi toksin.
Beberapa type Clostridium perfringens
Terdapat lima type dari Clostridium perfringens (A, B, C, D and E)
dimana mampu memproduksi sejumlah toksin seperti toksin: alpha, beta, epsilon,
iota and toksin CPE. Alpha toksin dan enzim phospholipase C diyakini sebagai
kunci penyebab terjadinya NE. Namun demikian dari studi yang dilakukan oleh
pada ahli belakangan ini, isolat dari Clostridium perfringens yang tidak
memproduksi alpha toksin tetap dapat menimbulkan terjadinya NE.
Sebagai tambahan, toksin yang disebut NetB belakangan ini diidentifikasi dapat
menyebabkan terjadinya NE yang disebabkan oleh salah satu isolat Clostridium
perfringens (Anthony Keyburn, CSIRO Livestock Industries Researchers).
Usus dari ayam yang terinfeksi Clostridium perferingens menjadi rapuh dan
menggelembung disertai adanya timbunan gas dan lesi-lesi bersifat nekrosis yang
menyebar cukup luas disebabkan oleh toksin yang dihasilkan oleh Clostridium
perfringens tersebut. Pada kejadian yang bersifat akut, sering kali adanya
kematian pada ayam yang terinfeksi tidak disertai adanya gejala klinis. Namun
demikian pada bentuk yang subklinis, lebih banyak menimbulkan kerugian secara
ekonomis berupa gangguan pertumbuhan dan problem efesiensi pakan.
Gejala klinis dan lesi
Gejala awal dari ayam yang mengalami infeksi Clostridium perfringens penyebab
NE serikali nampak ayam mengalami diare dengan kotoran agak encer warna merah
kecoklatan (seperti warna buah pepaya) disertai dengan cairan asam urat yang
keluar bersama feces dan terkadang fecesnya bercampur dengan sejumlah material
pakan yang tidak tercerna secara sempurna. Akibat terjadinya diare, litter
nampak cepat basah dan cemaran ammonia jadi meningkat cukup tajam ada dalam
kandang, sehingga dapat memperparah kondisi sakit dari ayam dan meningkatnya
jumlah kematian. Pada ayam broiler, seringkali kasus NE dapat diamati cukup
jelas saat memasuki umur 3 (tiga) minggu keatas.
Gangguan pertumbuhan (pertumbuhan melambat) dan problem efisiensi pakan (FCR
jadi membengkak) disebabkan karena rusaknya dinding usus oleh toksin yang
dihasilkan oleh infeksi Clostridium perfringens, dimana terjadi gangguan
penyerapan nutrisi pakan oleh dinding usus. Contoh gambar dibawah menunjukkan
tingkatan derajat lesi disebabkan oleh paparan Alpha toksin yang dihasilkan
oleh infeksi Clostridium perfringens (derajat lesi dari tingkat 1 – 4),
dimana semakin berat derajat lesinya, maka semakin berkurang nutrisi yang mampu
diserap oleh dinding usus, sehingga sangat berdampak pada gangguan pertumbuhan
dan membengkaknya FCR.
Secara khusus kasus NE yang bersifat sporadik seringkali dapat terjadi pada
peternakan ayam, baik pada peternakan ayam broiler (pedaging), petelur
komersial maupun breeder, dapat terjadi bila mana tidak digunakannya
antibiotika yang berfungsi sebagai growth promoters atau problem infeksi
oleh Emeria spp. penyebab Koksidiosis tidak terkontrol dengan maksimal,
praktik manajemen pemeliharaan ayam dibawah standar (tidak sesuai dengan
keinginan ayam modern), serta pakan dengan kandungan NSP (Non Starch
Polisacharida = Karbohidrat bukan Pati) yang cukup tinggi dan sumber
protein asal hewani yang cukup tinggi kandungannya dalam sediaan pakan.
Referensi:
Mutaqin,Aris.Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan
Gangguan Sistem Pernapasan.Jakarta:Salemba Medika,2008.
Betz L dan Sowden A Linda
1999, “keperawatan pedaitri, Penerbit buku kedokteran ECC,” Jakarta. Halaman
316-321. Diakses tanggal 14 Maret 2014
Bagbei Laily 1990, “Infectectious
Diseases, Nelson Essentials of Pediatric,” halaman 284-308. Diakses tanggal 14
Maret 2014
Dames,Eko.”Peranan dan Pengertian
Epidemiologi dalam Kesehatan Masyarakat,”http://ekookdamezs.blogspot.com
Diakses pada tanggal 15 Maret 2014
Ndoen,Ermi
ML.”Penyakit Menular & Kualitas
Lingkungan,"http://kesehatanlingkungan.wordpress.com.diakses pada tanggan
14 maret 2014
Utami,Ekki Indri Retno.”
Epidemiologi dan Peranannya dalam Pemecahan Masalah Kesehatan di
Masyarakat,”http://ekkiindri.blogsot.com Diakses pada tangga 14 maret 2014.