Minggu, 16 Maret 2014

Epidemiologi



1.     Masalah Kesehatan Meningitis

MENINGITIS

            Secara ringkas pengertian dari meningitis adalah radang pada maningen/membran(selaput) yang
mengelilingi otak dan medula spinalis.

Meningitis dapat di bedakan menjadi 2:
a.      Meningitis virus
Tipe dari meningitis ini sering di sebut meninitis aseptis. Tipe ini biasanya disebabkan oleh berbagai jenis penyakit yang disebabkan virus seperti gondok,herpes simpleks dan herpes zooster. Eksudat yang biasanya terjadi pada meningitis bakteri tidak terjadi pada meningitis virus dan tidak ditemukan organisme pada kultur cairan otak. Peradangan terjadi pada seluruh korteks serebri dan lapisan otak. Mekanisme atau respon dari jaringan otak terhadap virus bervariasi tergantung pada jenis sel yang terlibat.

b.      Meningitis Bakterial
Meningits bakterial adalah suatu keadaan ketika meningen atau selaput dari otak mengalami peradangan akibat bakteri. Sampai saat ini bentuk paling signifikan dari meningitis adalah tipe bakterial. Bakteri yang paling sering di jumpai pada meningitis bakterial akut adalah Neiserria Meningitidis (meningitis meningokokus),Streptococcus Pneumoniae(meningitis pada orang dewasa) dan Haemopbilus Influenzae( pada anka-anak dan remaja ).

A.   Faktor- faktor penyebab Meningitis :

Saat ini ada beberapa Bakteri yang dapat menyebabkan meningitis. Beberapa di antaranya:
·            Bakteri Meningokokus atau Meningococcal bakteri - ada beberapa jenis bakteri meningococcal disebut grup A, B, C, W135, Y dan Z. Saat ini ada vaksin tersedia yang menyediakan perlindungan terhadap grup C meningococcal bakteri. Dari meningococcal meningitis, namun, umumnya disebabkan oleh Grup B bakteri.
·            Streptococcus pneumoniae bakteri atau pneumokokus bakteri-bakteri ini cenderung mempengaruhi bayi dan anak-anak dan orang tua karena sistem kekebalan tubuh mereka lebih lemah dari kelompok usia lainnya.
·            Mereka yang memiliki CSF shunt atau memiliki cacat dural mungkin untuk mendapatkan meningitis yang disebabkan oleh Staphylococcus
·            Pasien memiliki tulang belakang prosedur (misalnya tulang belakang anaesthetia) beresiko meningitis yang disebabkan oleh Pseudomonas spp.
·            Sifilis dan tuberkulosis menuju meningitis serta jamur meningitis langka penyebab tetapi terlihat dalam individu positif HIV dan orang-orang dengan kekebalan ditekan.
Ada beberapa Virus yang dapat menyebabkan virus meningitis. Vaksinasi terhadap banyak virus ini telah menyebabkan penurunan kejadian beberapa kasus virus meningitis. Untuk contoh campak, gondok dan Rubela (MMR) vaksin menyediakan anak dengan kekebalan terhadap gondok, yang dulunya merupakan penyebab utama dari virus meningitis pada anak-anak.
Virus yang dapat menyebabkan meningitis meliputi:
  • virus herpes simpleks-ini dapat menyebabkan genital herpes dan luka dingin
  • enteroviruses-virus flu perut - ini telah menyebabkan polio di masa lalu juga bertanggung jawab atas
  • Gondok virus
  • Echovirus
  • Coxsackie virus
  • Virus herpes zoster
  • Campak virus
  • Arbovirus
  • Influenza virus
  • HIV
  • Virus West Nile
Penyebab lain dari meningitis meliputi:
  • Meningitis jamur-disebabkan oleh Cryptococcus, Histoplasma dan Coccidioides spesies dan melihat pada pasien AIDS
  • Parasit yang menyebabkan meningitis-termasuk contoh meningitis eosinophilic yang disebabkan oleh angiostrongyliasis
  • Organisme lainnya seperti tuberkulosis atipikal, sifilis, penyakit Lyme, leptospirosis, listeriosis dan brucellosis, penyakit Kawasaki dan Mollaret's meningitis
  • Mungkin ada tidak ada infeksi dan peradangan hanya meninges menuju bebas-infektif meningitis. Hal ini disebabkan oleh tumor, leukemia, limfoma, obat dan bahan kimia yang diberikan spinally atau epidurally selama anestesi atau prosedur, penyakit seperti Sarkoidosis, sistemik lupus eritematosus dan Behçet's penyakit dll.
B.     Distribusi Penyakit Meningitis
a. Orang/ Manusia
Umur dan daya tahan tubuh sangat mempengaruhi terjadinya meningitis.Penyakit ini lebih banyak ditemukan pada laki-laki dibandingkan perempuan dan distribusi terlihat lebih nyata pada bayi. Meningitis purulenta lebih sering terjadi pada bayi dan anak-anak karena sistem kekebalan tubuh belum terbentuk sempurna.Puncak insidensi kasus meningitis karena Haemophilus influenzae di negaraberkembang adalah pada anak usia kurang dari 6 bulan, sedangkan di Amerika Serikat terjadi pada anak usia 6-12 bulan. Sebelum tahun 1990 atau sebelum adanya vaksin untuk Haemophilus influenzae tipe b di Amerika Serikat, kira-kira 12.000 kasus meningitis Hib dilaporkan terjadi pada umur < 5 tahun.Insidens Rate pada usia < 5 tahun sebesar 40-100 per 100.000.7 Setelah 10 tahun penggunaan vaksin, Insidens Rate menjadi 2,2 per 100.000.9 Di Uganda (2001-2002) Insidens Rate meningitis Hib pada usia < 5 tahun sebesar 88 per 100.000.28
b. Tempat
Risiko penularan meningitis umumnya terjadi pada keadaan sosio-ekonomirendah, lingkungan yang padat (seperti asrama, kamp-kamp tentara dan jemaah haji), dan penyakit ISPA.16 Penyakit meningitis banyak terjadi pada negara yang sedang berkembang dibandingkan pada negara maju. Insidensi tertinggi terjadi di daerah yang disebut dengan the AfricanMeningitis belt, yang luas wilayahnya membentang dari Senegal sampai ke Ethiopia meliputi 21 negara. Kejadian penyakit ini terjadi secara sporadis dengan Insidens Rate 1-20 per 100.000 penduduk dan diselingi dengan KLB besar secara periodik.Di daerah Malawi, Afrika pada tahun 2002 Insidens Rate meningitis yang disebabkan oleh Haemophilus influenzae 20-40 per 100.000 penduduk.
c. Waktu
Kejadian meningitis lebih sering terjadi pada musim panas dimana kasuskasusinfeksi saluran pernafasan juga meningkat. Di Eropa dan Amerika utara insidensi infeksi Meningococcus lebih tinggi pada musim dingin dan musim semi sedangkan di daerah Sub-Sahara puncaknya terjadi pada musim kering. Meningitis karena virus berhubungan dengan musim, di Amerika sering terjadi selama musim panas karena pada saat itu orang lebih sering terpapar agen pengantar virus. Sebagian besar kasus terjadi pada musim panas.
C.    Frekuensi penyakit meningitis
Tersebar di seluruh dunia; paling prevalens diantara amak umur 2 bulan sampai 3 tahun; jarang terjadi pada usia 5 tahun. Di negara berkembang, puncak insidensi adalah pada anak usia kurang dari 6 bulan; di Amerika Serikat pada anak usia 6-12 bulan. Sebelum adanya vaksin untuk Hib di Amerika Serikat, kira-kira 12.000 kasus meningitis Hib dilaporkan terjadi pada anak umur kurang dari 5 tahun dibandingkan dengan hanya 25 kasus pada tahun 1998. Sejak tahun 1990-an, dengan penggunaan vaksin secara luas pada anak-anak, meningitis yang disebabkan Hib boleh dikatakan telah menghilang; sekarang banyak kasus terjadi pada orang dewasa dibandingkan pada anak-anak. Kasus sekunder dapat terjadi di lingkungan dan tempat penitipan anak.
2. epidemiology is “the mother science of public health
EPIDEMIOLOGI
Dalam beberapa kamus umum menyebutkan bahwa pengertian epidemiologi adalah ilmu tentang epidemi atau wabah. Epidemiologi berasal dari bahasa Yunani.
Epi      = pada atau tentang
demos = rakyat/penduduk
logos   = ilmu
Jadi epidemiologi merupakan “ilmu yang mempelajari tentang hal-hal yang terjadi pada rakyat”.
Batasan arti yang sudah berkembang dewasa ini mengartikan epidemiologi sebagai ilmu tentang terjadinya dan penyebab dari suatu masalah kesehatan dan faktor-faktor yang mempengaruhinya serta upaya-upaya penanggulangannya.

Epidemiologi adalah Ilmu yang mempelajari frekuensi dan penyebaran masalah Kesehatan pada sekelompok manusia serta faktor yang mempengaruhinya. Epidemiologi diartikan sebagai studi tentang epidemi. Hal ini berarti bahwa epidemiologi hanya mempelajari penyakit-penyakit menular saja tetapi dalam perkembangan selanjutnya epidemiologi juga mempelajari penyakit-penyakit non infeksi, sehingga dewasa ini epidemiologi dapat diartikan sebagai studi tentang penyebaran penyakit pada manusia di dalam konteks lingkungannya. Mencakup juga studi tentang pola-pola penyakit serta pencarian determinan-determinan penyakit tersebut. Epidemiologi adalah studi tentang distribusi dan faktor-faktor yang menentukan keadaan yang berhubungan dengan kesehatan atau kejadian-kejadian pada kelompok penduduk tertentu (Last, Beagehole et al,1993). Menurut Gordis (2000), epidemiologi merupakan inti dari disiplin ilmu “Public Health”,tetapi juga relevan untuk ilmu kedokteran klinis. Dengan kata lain epidemiology merupakan “the mother science of public health” (Blakley,1990).  Jadi dapat disimpulkan bahwa epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang penyebaran penyakit serta determinan-determinan yang mempengaruhi penyakit tersebut.

Untuk dapat memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan, mencegah dan mengobati penyakit serta  memulihkan kesehatan masyarakat perlu disediakan dan diselenggarakan Pelayanan Kesehatan Masyarakat (Public Health Service ) yang sebaik – baiknya. Oleh karena itu pelayanan kesehatan masyarakat yang diberikan harus sesuai dengan kebutuhan ( Health Needs ) dari masyarakat. Namun dalam praktek sehari – hari ternyata tidaklah mudah untuk menyediakan dan menyelenggarakan pelayanan kesehatan masyarakat yang maksimal. Masalah pokok yang dihadapi adalah sulitnya merumuskan kebutuhan kesehatan yang ada dalam masyarakat karena pola kehidupan masyarakat yang beraneka ragam sehingga mengakibatkan kebutuhan kesehatan yang ditemukan juga beraneka ragam. Untuk mengatasinya, telah diperoleh semacam kesepakatan bahwa perumusan kebutuhan kesehatan dapat dilakukan jika diketahui masalah kesehatan yang ada di masyarakat. Misalnya ; apabila dalam suatu masyarakat banyak ditemukan masalah kesehatan berupa penyakit menular ( TBC ), maka pelayanan kesehatan yang disediakan akan lebih diarahkan kepada upaya untuk mengatasi masalah penyakit menular tersebut. Apabila hal ini kemudian dikaitkan dengan upaya untuk mengetahui Frekwensi, Penyebaran dan Faktor – factor yang mempengaruhi suatu masalah kesehatan dalam masyarakat, maka tercakup dalam suatu cabang Ilmu Khusus yang disebut dengan Epidemiologi. Dan Epidemiologi ini merupakan inti dari Ilmu Kesehatan Masyarakat.

Kata kunci dari epidemiologi :

1.   Frekuensi yaitu menemukan masalah kesehatan di masyarakat dan mengukur atau menghitung jumlah masalah kesehatan yang terjadi di masyarakat.

2.    Penyebaran yaitu menunjuk kepada pengelompokan masalah kesehatan menurut suatu keadaan tertentu. Keadaan tertentu yang dimaksudkan dalam epidemiologi adalah :
a.    Menurut Ciri – ciri Manusia ( MAN )
b.    Menurut Tempat ( PLACE )
c.    Menurut Waktu ( TIME )

3.    factor determinan adalah menunjuk kepada factor penyebab dari suatu penyakit / masalah kesehatan    baik yang menjelaskan Frekwensi, penyebaran ataupun yang menerangkan penyebab munculnya masalah kesehatan itu sendiri. Dalam hal ini ada 3 langkah yang lazim dilakukan yaitu:
a.    Merumuskan Hipotesa tentang penyebab yang dimaksud.
b.    Melakukan pengujian terhadap rumusan Hipotesa yang telah disusun.
c.    Menarik kesimpulan.

3.     Fenomena – Fenomena Epidemi, Pandemi, Endemi, dan Sporadiks

A.    Epidemi
Fenomena Nelayan Thailand dan Epidemi HIV di Kalimantan Barat
Description: 137691221299754707Catatan: Tulisan ini menggambarkan pandangan dan pemahaman terkait dengan penyebaran HIV/AIDS di tahun 2001. Gambaran ini bisa menjadi perbandingan tentang pandangan dan pemahaman terhadap HIV/AIDS di tahun 2013. Redaksi.
Jakarta, 8/11-2001. Dalam laporan bulanan kasus kumulatif kasus HIV/AIDS yang dikeluarkan Ditjen PPM&PL, Depkeskesos, sampai Juli 2001 tercatat 50 kasus HIV/AIDS di Kalimantan Barat (Kalbar) yang terdiri atas 49 HIV (28 di antaranya nelayan asing yang sudah dipulangkan ke negaranya) dan 1 AIDS dengan kematian 1. Epidemi HIV di Kalbar selalu dikait-kaitkan dengan kehadiran nelayan Thailand.
Di salah satu sesi pada Kongres AIDS Internasional Asia Pasifik IV 1997 di Manila, Filipina, pembicara dari Indonesia, ketika itu alm. dr. Hadi M. Abednego, waktu itu Dirjen PPM&PLP Depkes, diprotes oleh seorang remaja Thailand, waktu itu berusia 17 tahun, aktivis di Population Council Thailand, karena menyebutkan penularan HIV di Merauke, Papua (d/h. Irian Jaya) terjadi karena kehadiran nelayan Thailand.
Soalnya, menurut gadis itu, mobilitas penduduk Merauke juga perlu diperhitungkan. Penduduk dari daerah lain di Indonesia juga, ‘kan, datang ke sana. Dia sangat menyesalkan cara penyajian yang mengait-ngaitkan sebuah bangsa dengan epidemi HIV karena tidak hanya nelayan Thailand yang mengunjungi Merauke. Penduduk dari daerah dan negara lain pun ada yang datang Merauke. Begitu pula dengan penduduk Merauke tentu saja mereka juga bepergian pula ke luar daerahnya.
Bertolak dari fakta di atas tentulah cara-cara yang selalu menyalahkan pihak lain dan menuding nelayan suatu bangsa sebagai penyebar HIV tidak etis dan hal itu pun merupakan penyangkalan terhadap epidemi HIV yang sudah ada di depan mata dan penyebarannya pun sudah terjadi secara horizontal antara penduduk setempat. Bisa saja ada penduduk Kalbar yang tertular HIV di luar daerah atau di luar negeri, atau sebaliknya ada penduduk dari daerah lain atau negara lain yang menulari penduduk Kalbar.
Dalam masalah HIV/AIDS seseorang berisiko tertular HIV jika (1) melakukan hubungan seks (sanggama) baik heteroseks, homoseks, seks anal dan oral tanpa kondom dengan pasangan yang berganti-ganti di dalam dan di luar nikah, (2) melakukan hubugnan seks (sanggama) baik heteroseks, homoseks, seks anal dan oral tanpa kondom dengan seseorang yang berganti-ganti pasangan di dalam dan di luar nikah, (3) menerima transfusi darah yang tidak diskrining HIV, dan (4) memakai jarum suntik dan semprit secara bersama dengan bergantian.
Maka biar pun prevalensi HIV/AIDS di Kalbar per 100.000 penduduk 0,02 tetapi kalau seseorang melakukan kegiatan-kegiatan yang berisiko maka kemungkinan tertular pun tetap ada. Probabilitas (kemungkinan) tertular HIV melalui sanggama yang tidak aman antara pria dengan wanita yang HIV-positif berkisar antara 0,03-5,6 persen untuk setiap kontak, tetapi karena hubungan seks sering dilakukan, apalagi dengan pasangan yang berganti-ganti atau dengan orang yang suka berganti-ganti pasangan, maka risiko tertular pun meningkat pula.
Namun, biar pun HIV/AIDS merupakan fakta medis tetapi tidak sedikit orang, termasuk jajaran Depkes, yang panik. Misalnya, ada pernyataan Kakanwil Depkeskesos Kalbar yang mengatakan akan mengetes darah penduduk Kepulauan Karimata, Kabupaten Ketepang hanya karena ada nelayan Thailand yang mampir ke pulau itu jelas tidak rasional. Soalnya, belum tentu semua penduduk melakukan kegiatan berisiko, seperti bayi dan orang-orang yang sudah uzur. HIV tidak menular melalui pergaulan sosial.
Sebagai virus, HIV hanya bisa hidup di dalam larutan yaitu darah, sperma dan cairan vagina. HIV tidak bisa disebar-sebarkan karena hanya menular melalui cara-cara yang sangat spesifik yaitu (1) melalui hubungan seks (sanggama) baik heteroseks, homoseks, seks anal dan oral tanpa kondom dengan seseorang yang HIV-positif di dalam dan di luar nikah yang sah, (2) melalui transfusi darah yang sudah tercemar HIV, (3) melalui jarum suntik dan alat-alat kesehatan yang tercemar HIV, dan (4) dari seorang wanita yang HIV-positif kepada bayi yang dikandungnya terutama saat persalinan dan menyusui.
Description: 1376912315128208827Fenomena Gunung Es
Laporan resmi pemerintah melalui Ditjen P2M&PL Depkessos sampai tanggal 31 Mei 2001 menunjukkan kasus kumulatif HIV/AIDS dengan faktor risiko hubungan seks adalah (a) heteroseks atau antara pria dan wanita adalah 54,62%, (b) homoseks adalah 6,44%. Lagi pula yang perlu diingat tidak semua hubungan seks heteroseks di luar nikah. Dalam agama Islam nikah sah jika sudah memenuhi rukun yaitu (1) ada calon suami, (2) ada calon istri, (3) wali, (4) dua saksi, dan (5) ijab dan kabul. Jadi, biar pun tidak dicatat di KUA pernikahan tetap sah.
Bukti lain menunjukkan ada 27 ibu-ibu rumah tangga yang terikat dalam perkawinan yang sah terinfeksi HIV di 13 provinsi (Media Indonesia, 6/7-2000). Selain itu penelitian Yayasan Pelita Ilmu (YPI), Jakarta, terhadap 537 wanita hamil melalui tes sukarela dengan konseling di rumah sakit, klinik bersalin, klinik keluarga dan puskesmas di Jakarta (2000) menunjukkan 6 di antaranya positif HIV (Media Indonesia, 2/12-2000)
Lagi pula tidak ada dasar hukum yang mengharuskan penduduk menjalani tes HIV dan tidak ada pula kekuatan hukum yang membuat Kakanwil melakukan tes HIV kepada penduduk. Jika ini terjadi berarti merupakan perbuatan yang melawan hukum dan melanggar hak asasi manusia (HAM). Kalau nelayan yang mampir di pulau itu diketahui ada yang HIV-positif, maka kepada penduduk yang melakukan perilaku-perilaku yang berisiko tinggi dianjurkan menjalani tes HIV secara sukarela dan bersifat anonim dengan disertai konseling prates dan pasca tes. Hal yang sama bukan hanya kepada penduduk di pulau itu, tetapi dianjurkan juga kepada semua orang yang (pernah) melakukan perilaku berisiko, terutama di tempat-tempat yang prevalensi HIV-nya tinggi.
Karena HIV/AIDS merupakan fakta medis yang dapat diuji di laboratorium, maka tidak ada alasan untuk menduga-duga seseorang sudah tertular HIV biar pun ada gejala-gejala minor dan mayor yang terkait dengan AIDS karena status HIV hanya dapat diketahui melalui diagnosis tes HIV. AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah kondisi sistem kekebalan tubuh seseorang yang sudah dirusak oleh HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang ditandai dengan lebih dari 70 jenis penyakit infeksi oportunistik. Masa AIDS terjadi antara 7-12 tahun setelah seseorang tertular HIV.
Sebagai daerah yang berbatasan langsung dengan dunia luar muncul pula kesan Kalbar sebagai daerah rawan HIV/AIDS. Ini pun jelas mitos karena rawan atau tidak rawan bukan karena letak geografis tetapi sangat dipengaruhi oleh kegiatan-kegiatan penduduk apakah mereka melakukan kegiatan berisiko atau tidak. Jadi, biar pun banyak turis asing yang datang ke Kalbar kalau penduduk menghindarkan diri dari kegiatan berisiko maka tidak akan pernah terjadi penyebaran HIV.
Banyak negara yang “terisolir” dari dunia luar, tidak ada bar, karaoke, panti pijat dan tidak ada pula lokalisasi pelacuran tetapi tetap saja ada kasus HIV/AIDS. Dalam laporan WHO/UNAIDS (Report on global HIV/AIDS epidemic, Juni, 1998), misalnya, sampai akhir tahun 1997 Arab Saudi sudah melaporkan 334 kasus AIDS, Bahrain 37, Brunei 10, Irak 104, Iran 154, Kuwait 24, Mesir 153, Qatar 85, Uni Emirat Arab 8. Hal ini bisa saja terjadi karena penduduk negara yang bersangkutan bisa saja melakukan kegiatan-kegiatan berisiko tinggi tertular HIV di luar negaranya.
Karena epidemi HIV erat kaitannya dengan fenomena gunung es (iceberg phenomenon) artinya angka yang muncul hanya merupakan sebagian kecil dari angka yang tidak terdeteksi maka diperlukan suatu sistem untuk mendapatkan angka yang realistis melalui surveilans tes HIV. Angka-angka yang muncul merupakan prevalensi HIV (epidemi suatu penyakit pada waktu tertentu dan pada kalangan tertentu). Malaysia, misalnya, melakukan tes rutin terhadap pasien klinik PMS (penyakit-penyakit menular seksual, seperti kencing nanah/GO, sifilis, hepatitis B), wanita hamil, polisi, narapidana, dan pasien TB. Sedangkan di Indonesia surveilans hanya dilakukan terhadap pekerja seks dan waria itu pun hanya sporadis.
Materi Kampanye
Maka tidak mengherankan kelau kemudian angka yang muncul di Indonesia tidak realistis. Sampai 31 Mei 2001, umpamanya, kasus kumulatif HIV/AIDS yang dikeluarkan Ditjen P2M&PL, Depkeskesos, di Indonesia yang berpenduduk 200 juta baru mencapai 1.956 (angka ini termasuk orang asing yang terdeteksi di Indonesia yaitu 277, tidak diketahui 68 dan tidak disebut 47, dan tes surveilans). Bandingkan dengan Malaysia yang sampai penghujung tahun 1999 saja sudah dilaporkan 31.126 kasus HIV/AIDS ke Departemen Kesehatan yang terdiri atas 25.796 HIV, 3.003 AIDS dan 2.327 meninggal.
Surveilans terhadap pekerja seks sering pula melanggar hak asasi manusia (HAM) karena tidak sesuai dengan standar prosedur operasi tes HIV yang sudah disepakati secara internasional, antara lain harus menerapkan asas anonimitas (contoh darah tidak boleh diberikan kode atau tanda yang memungkinkan seseorang mengetahui identitas pemilik contoh darah tsb.) dan disertai dengan konseling sebelum dan sesudah tes.
Prevalensi dikeperlukan untuk epidemiologis, seperti perencaan kebijakan pencegahan dan pengoatan. Prevalensi HIV diketahui melalui surveilans tes, sedangkan untuk pengobatan dan perawatan status HIV seseorang diketahui melalui diagnosis dengan tes HIV yang sesuai dengan standar prosedur operasi. Jadi, tidak perlu mencari-cari status HIV pendudu, misalnya dengan menjalankan tes terhadap calon TKI. Tes untuk calon TKI dapat dilakukan dalam kerangka surveilans untuk mendapatkan gambaran epidemi di kalangan calon TKI.
Dalam masalah HIV/AIDS akan lebih baik kalau yang dikedepankan fakta medis karena pembicaraan HIV/AIDS di luar fakta medis akan menyuburkan mitos (anggapan yang keliru) sehingga usaha untuk memutus mata rantai epidemi HIV pun tidak akan berhasil. Mitos yang sudah berkembang, misalnya, HIV menular melalui zina, hubungan seksual menyimpang dan pengunaan obat-obatan terlarang, dll. Hal ini jelas salah kaprah karena tidak ada kaitan langsung antara penularan HIV dengan zina. Dalam ikatan pernikahan yang sah pun bisa terjadi penularan HIV jika salah satu pasangan tersebut HIV-positif dan hubungan seks dilakukan tanpa kondom.
Dalam kaitan peningkatan kewaspadaan terahdap epidemi HIV diperlukan kampanye yang efektif, antara lain melalui KEI (komunikasi, edukasi dan informasi). Persoalannya, selama ini materi KIE seputar HIV/AIDS tidak objektif. Misalnya, cara mengindari HIV disebutkan jangan berzina atau jangan melakukan hubungan seks di luar nikah. Ini jelas tidak akurat karena penularan HIV melalui hubungan seks terjadi jika salah satu dari pasangan itu HIV-positif dan sanggama dilakukan tanpa kondom di dalam atau di luar nikah. HIV/AIDS pun selalu dikait-kaitkan dengan moral dan agama. Padahal, dalam kaitan pencegahan diperlukan KIE yang akurat, objektif dan fair.
Jadi, jangan heran kalau 11 tentara Indonesia yang dikirim sebagai pasukan perdamaian PBB ke Kamboja tertular HIV di sana (GATRA, 5/8-2000). Sebaliknya, tentara Belanda tidak ada yang terular HIV. Mengapa hal ini bisa terjadi? Rupanya, tentara Indonesia hanya dibekali dengan senapan dan wejangan, sedangkan tentara Belanda selain membawa bedil juga dipersenjatai dengan kondom untuk melindungi “si kecil”. Soalnya, ketika itu prevalensi HIV di kalangan pekerja seks di Kamboja antara 32-64 persen sehingga risiko tertular sangat besar.***
- AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap

B.     Pandemi
Pandemi Mematikan di Dunia
Oleh: Jalaksana Winangoen
[UNIKNYA.COM]: Umat manusia pernah dirundung masa kelam, ketika dunia medis kedokteran perkembangannya masih sangat terbatas. Beberapa wabah pandemik, tercatat teleh menyebabkan kematian hingga puluhan juta orang di belahan dunia hingga kurun waktu tertentu. Berikut adalah 5 pandemi mematikan yang pernah melanda dunia:

1. Wabah Hitam
Kematian Hitam atau Wabah Hitam, adalah suatu pandemi hebat yang pertama kali melanda Eropa pada pertengahan hingga akhir abad ke-14 (1347 – 1351) dan membunuh sepertiga hingga dua pertiga populasi Eropa. Pada saat yang hampir bersamaan, terjadi pula epidemi pada sebagian besar Asia dan Timur Tengah, yang menunjukkan bahwa peristiwa di Eropa sebenarnya merupakan bagian dari pandemi multi-regional. Jika termasuk Timur Tengah, India, dan Tiongkok, Kematian Hitam telah merenggut sedikitnya 75 juta nyawa. Penyakit yang sama diduga kembali melanda Eropa pada setiap generasi dengan perbedaan intensitas dan tingkat fatalitas yang berbeda hingga dasawarsa 1700-an. Penyakit ini berhasil dimusnahkan di Eropa pada awal abad ke-19, tapi masih berlanjut pada bagian lain dunia (Afrika Tengah dan Oriental, Madagaskar, Asia, beberapa bagian Amerika Selatan).

Description: http://www.uniknya.com/wp-content/uploads/2011/06/black-death-1.jpg
wabah hitam (sumber: medusakick.blogspot)

Description: http://www.uniknya.com/wp-content/uploads/2011/06/death_black_plague_street_scene.jpg
wabah hitam (Sumber: solarnavigator)

Kejadian awal di Eropa awalnya disebut sebagai “Mortalitas Besar” (Great Mortality) oleh para penulis kontemporer. Nama “Kematian Hitam” umumnya dianggap berasal dari gejala khas dari penyakit ini, yang disebut acral necrosis, di mana kulit penderita menjadi menghitam karena pendarahan subdermal. Catatan sejarah telah membuat sebagian besar ilmuwan meyakini bahwa Kematian Hitam adalah suatu serangan wabah bubonik yang disebabkan bakteri Yersinia pestis dan disebarkan oleh lalat dengan bantuan hewan seperti tikus hitam (Rattus rattus), walaupun ada juga kalangan yang menyangsikan kebenaran hal ini.

2.  Pandemik Flu 1918
Pandemik flu 1918 (biasanya disebut flu Spanyol) adalah pandemik influenza kategori 5 yang mulai menyebar di Amerika Serikat, muncul di Afrika Barat dan Perancis, lalu menyebar hampir ke seluruh dunia. Penyakit ini disebabkan oleh virus Influenza A subtipe H1N1. Kebanyakan korban flu ini adalah dewasa muda. Flu Spanyol terjadi dari Maret 1918 sampai Juni 1920, menyebar sampai ke Arktik dan kepulauan Pasifik. Diperkirakan 50 sampai 100 juta orang di seluruh dunia meninggal.

Description: http://www.uniknya.com/wp-content/uploads/2011/06/flu_masks_1918_19-Pandemik-Flu-1918.jpg
Pandemik Flu 1918 (sumber: actionspeaksradio.org)

Description: http://www.uniknya.com/wp-content/uploads/2011/06/1918SpanishFlu.jpg
Pandemik Flu 1918 (Sumber: oaklandgenealogy)

3. Wabah Justinianus
Wabah Justinianus adalah pandemik yang menyerang Kekaisaran Romawi Timur (Kekaisaran Bizantium), termasuk ibukotanya Konstantinopel, pada tahun 541–542 M. Penyebabnya kemungkinan adalah wabah pes, yang kemudian menjadi tidak populer karena menyebabkan wabah “Kematian Hitam” pada abad ke-14. Pengaruh sosial dan kultural dari wabah ini dapat disamakan dengan Kematian Hitam. Dalam pandangan sejarawan abad keenam, cakupan wabahnya hampir seluruh dunia, terutama menyerang Asia Selatan dan Tengah, Afrika Utara dan Arabia, dan Eropa (di utara sejauh Denmark dan di barat sejauh Irlandia. Studi genetis mengarah pada Cina sebagai sumber utama penularan.

Description: http://www.uniknya.com/wp-content/uploads/2011/06/Wabah-Justinianus.jpg
Wabah Justinianus (Sumber: 2leep.co.uk)

Description: http://www.uniknya.com/wp-content/uploads/2011/06/Wabah-Justinianus1.jpg
Wabah Justinianus(Sumber: memphisfranks.glogster.)

Sampai sekitar tahun 750, wabah ini kembali di tiap generasi di Mediterania. Gelombang penyakit juga berpengaruh terhadap masa depan sejarah Eropa. Sejarawan modern menamai wabah ini berdasarkan nama Kaisar Romawi Justinianus I, yang berkuasa pada saat itu. Justinianus I juga mengidap penyakit tersebut, namun merupakan satu dari sedikit orang yang berhasil bertahan hidup.


4. Penyakit Pes
Penyakit pes adalah penyakit zoonosis, yang bersumber dari tikus kecil dan kutu-nya, dan merupakan salah satu dari tiga jenis infeksi yang disebabkan oleh Yersinia pestis (sebelumnya dikenal sebagai Pasteurella pestis), yang termasuk dalam keluarga Enterobacteriaceae. Wabah pes membunuh sekitar dua dari tiga manusia yang terjangkit dalam waktu 4 hari. Istilah wabah pes berasal dari Bubo kata Yunani, berarti “kelenjar bengkak”. Kelenjar getah bening (buboes) terutama terjadi di ketiak dan pangkal paha pada orang yang menderita wabah pes. Penyakit pes sering digunakan secara sinonim untuk wabah, tetapi sebenarnya merujuk secara khusus untuk infeksi yang masuk melalui kulit dan berjalan melalui limfatik, seperti yang sering terlihat pada infeksi kutu-borne. Penyakit pes umumnya diyakini menjadi penyebab Kematian Hitam yang melanda Eropa pada abad ke-14 dan menewaskan sekitar 75 juta orang diperkirakan, 30-60% dari populasi Eropa bersama dengan wabah septicemia dan wabah pneumonia. Karena wabah membunuh begitu banyak penduduk yang bekerja, upah naik dan beberapa sejarawan telah melihat ini sebagai titik balik dalam pembangunan ekonomi Eropa.

Description: http://www.uniknya.com/wp-content/uploads/2011/06/Penyakit-Pes.jpg
Penyakit PES (Sumber: blog.larkin)

5. Wabah Antoninus
Wabah Antoninus, AD 165-180, juga dikenal sebagai Wabah Galen, adalah pandemi kuno, baik dari cacar atau campak, dibawa ke Kekaisaran Romawi oleh pasukan yang kembali dari peperangan di Timur Dekat. Nama Antoninus, diberikan pada wabah ini, setelah kaisar terjangkit dan meninggal karena wabah ini. Penyakit ini kembali melanda sembilan tahun kemudian, menurut sejarawan Romawi Cassius Dio, dan menyebabkan kematian hingga 2.000 orang di Roma. Jumlah kematian telah diperkirakan mencapai lima juta orang. Sumber Kuno setuju bahwa epidemi muncul selama pengepungan Romawi atas Seleukia di musim dingin tahun 165-66. (**)
Description: http://www.uniknya.com/wp-content/uploads/2011/06/Wabah-Antoninus-.jpg

C.   Endemi

Malaria, pembunuh terbesar sepanjang abad

 Oleh Ermi ML Ndoen *
MALARIA kembali memakan korban. Dalam dua minggu terakhir Pulau Sabu dan Pulau Semau menjadi saksi kembali mengganasnya penyakit yang telah berumur ribuan tahun ini. Tercatat, tidak kurang dari 1.730 orang Sabu (Pos Kupang 06/05) dan 556 orang Semau (Pos Kupang 05/05) positif malaria. Dari jumlah ini sedikitnya delapan bocah di Desa Uitiuana, Kecamatan Semau, akhirnya menyerahkan nyawanya direnggut keganasan penyakit ini.
Kejadian luar biasa malaria di Kabupaten Kupang akhir-akhir ini juga merupakan suatu pukulan yang sangat berat bagi sektor kesehatan dan masyarakat NTT tentunya — di tengah tingginya beban ekonomi sehari-hari dan pro kontra naiknya tarif berobat di Rumah Sakit Umum Prof. Yohanes-Kupang. Kejadian kali ini juga merupakan suatu tamparan bagi Kabupaten Kupang, karena di kabupaten inilah enam tahun yang lalu, tepatnya pada 8 April 2000, bertempat di Desa Babau, Dr. Achmad Sujudi, Menteri Kesehatan RI saat itu — didampingi Kepala Perwakilan WHO untuk Indonesia Dr. Georg Petersen – mencanangkan dimulainya Gerakan Berantas Kembali Malaria atau “GEBRAK MALARIA” secara nasional. Suatu gerakan nasional yang diharapkan dapat menekan penyakit malaria dengan melibatkan berbagai komponen atau elemen masyarakat. Namun ternyata gerakan ini masih belum berhasil mengontrol kasus malaria. Suatu momen sejarah yang sebenarnya harus dikenang secara manis, ternyata harus diperingati dengan kenyataan pahit. Malaria kembali menjadi masalah di kawasan ini.
Penyakit malaria tidak hanya menjadi masalah Kabupaten Kupang. Penyakit ini merupakan salah satu masalah kesehatan masyakarat utama di seluruh dunia. Dalam buku The World Malaria Report 2005, Badan Kesehatan Dunia (WHO), menggambarkan walaupun berbagai upaya telah dilakukan, hingga tahun 2005 malaria masih menjadi masalah kesehatan utama di 107 negara di dunia. Penyakit ini menyerang sedikitnya 350-500 juta orang setiap tahunnya dan bertanggung jawab terhadap kematian sekitar 1 juta orang setiap tahunnya. Diperkirakan masih sekitar 3,2 miliar orang hidup di daerah endemis malaria. Malaria juga bertanggung jawab secara ekonomis terhadap kehilangan 12 % pendapatan nasional, negara-negara yang memiliki malaria.
Di Indonesia sendiri, diperkirakan 50 persen penduduk Indonesia masih tinggal di daerah endemis malaria. Menurut perkiraan WHO, tidak kurang dari 30 juta kasus malaria terjadi setiap tahunnya di Indonesia, dengan 30.000 kematian. Survai kesehatan nasional tahun 2001 mendapati angka kematian akibat malaria sekitar 8-11 per 100.000 orang per tahun. United Nation Development Program (UNDP,2004) juga mengklaim bahwa akibat malaria, Indonesia sedikitnya mengalami kerugian ekonomi sebesar $ 56,6 juta pertahun.
Secara nasional, Propinsi NTT merupakan propinsi dengan angka kesakitan malaria tertinggi. Data Depkes RI tahun 2005 menunjukkan bahwa NTT memiliki angka kesakitan malaria 150 per 1.000 orang per tahun, diikuti oleh Papua, 63,91 kasus per 1000 penduduk per tahun. Di tahun 2004, dilaporkan tidak kurang dari 711.480 kasus malaria klinik terjadi di NTT, dimana 20% dari 75.000 slide darah yang diperiksa positif malaria. Bahkan data Depkes (2000) menunjukkan bahwa tidak kurang dari 73% kasus yang diobati di puskesmas dan rumah sakit di NTT adalah malaria. Dinas Kesehatan NTT juga mencatat bahwa khusus untuk Kabupaten Kupang, rata-rata kasus malaria klinis dari tahun 2002-2004 mencapai 181 kasus per 1.000 orang pertahun, bahkan di tahun 2004 mencapai 205 kasus per 1.000 orang pertahun. Angka ini menunjukkan bahwa untuk daratan Timor, Kabupaten Kupang menempati rangking tertinggi kejadian malaria klinis setiap tahunnya.
Sebenarnya, apa dan bagaimana penyakit malaria? Kenapa setelah ribuan tahun penyakit ini masih menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian besar umat manusia? Andrew Spieldman dan Michael D’Antonio, dalam novelnya yang berjudul “Mosquito – The Story of Man’s Deadliest Foe” menggambarkan bahwa “tidak ada satu pun binatang di muka bumi ini yang menyentuh secara langsung dan sebegitu dalamnya mempengaruhi kehidupan dan takdir sebagian besar amat manusia”. Kedua novelist ini menggambarkan bahwa ternyata nyamuk — seekor makluk kecil yang mungkin dengan sekali tepukan bisa dimatikan – sepanjang sejarah kehidupan, telah menjadi pengganggu dan bahkan pembunuh nomor satu umat manusia di seluruh dunia. Sejak hadirnya, nyamuk telah mengalahkan begitu banyak pemimpin perang besar di zaman dahulu, termasuk Napoleon dan pasukannya. Bahkan disebutkan bahwa dalam Perang Dunia I, prajurit Inggris yang mati karena digigit “nyamuk” malaria lebih banyak dari yang mati karena tertembak peluruh musuh. Tidak hanya sampai di situ, Sandosham (1965), salah satu malarioligist ternama juga menggambarkan bahwa nyamuk dan malaria juga telah mengalahkan banyak raja besar Romawi pada zaman Alexander the Great. Tidak hanya prajurit dan raja, nyamuk dan malaria juga ikut membunuh para Paus, pemimpin agama dan negara lainnnya serta tentunya jutaan umat manusia di seluruh muka bumi.
Harrison juga dalam bukunya “Mosquito, Malaria and Man. – A History of Hostilities Since” menggambarkan malaria sebagai “the ancient deadly disease”. Memang, sejarah perkembangan malaria hampir sama tuanya dengan sejarah kehadiran manusia di muka bumi. Para ahli memperkirakan bahwa malaria kemungkinan berawal dari Afrika sekitar 12.000 – 17.000 tahun yang lalu. Dari benua ini, malaria kemudian menyebar ke suluruh dunia, terutama di daerah tropis,sejalan dengan sejarah dimulai penjelajahan umat manusia menemukan dan menaklukkan daerah-daerah baru, perdagangan serta sejarah penjualan budak-budak Afrika pada zaman dulu ke Amerika dan daerah-daerah lainnya.
Malaria juga sudah dikenal oleh para dokter pada zaman China kuno sekitar tahun 2700 sebelum masehi. Adalah Hippocrates, sang bapak kedokteran, yang pertama kali menggambarkan gejala-gejala klinis malaria pada sekitar abab IV Masehi. Kata malaria sendiri berasal dari bahasa Itali, “mal’aria”. Pada zaman dulu, orang beranggapan bahwa malaria disebabkan oleh udara yang kotor. Sementara di Perancis dan Spanyol, malaria dikenal dengan nama “paladisme atau paludismo“, yang berarti daerah rawa atau payau karena penyakit ini banyak ditemukan di daerah pinggiran pantai. Saking terkenalnya penyakit malaria, William Shakespeare, salah satu penulis Inggris yang paling terkenal sepanjang abad 16-17, juga telah menggambarkan penyakit malaria dalam salah satu karyanya sebagai “The Caliban Curse“. Caliban adalah salah satu budak Afrika yang dikutuk dalam karya Shakespeare, The Tempest (1611).
Pertanyaan sekitar penyebab penyakit malaria akhirnya dijawab oleh Ronald Ross, seorang dokter militer Ingris yang bertugas di India pada tahun 1897. Ross berhasil membuktikan bahwa ternyata malaria tidak disebabkan oleh udara kotor tetapi akibat gigitan nyamuk anopheles. Secara teoritis, cukup hanya dengan satu kali gigitan nyamuk anophles seseorang sudah bisa terjangkit malaria, jika nyamuk ini mengadung parasite malaria. Berkat penemuannya, Ross akhirnya memenangkan hadiah Nobel.
Penyakit malaria sebenarnya merupakan sejenis penyakit yang disebabkan oleh parasite yang dikenal dengan nama plasmodium. Parasite ini mempunyai empat jenis yaitu plasmodium falciparum, penyebab malaria tropikana dan merupakan jenis malaria yang paling berbahaya dengan tingkat kematian tinggi. Jenis, plasmodium yang kedua adalah plasmodium vivax, penyebab malaria jenis tertiana. Selanjutnya, plasmodium malarie, dan plasmodium ovale, masing-masing penyebab malaria jenis quartana dan ovale. Kedua jenis malaria pertama adalah merupakan jenis malaria yang paling banyak ditemukan di Indonesia.
Kenapa sulit dikontrol?
Walaupun ditularkan oleh nyamuk, penyakit malaria sebenarnya merupakan suatu penyakit ekologis. Penyakit ini sangat dipengaruhi oleh kondisi-kondisi lingkungan yang memungkinkan nyamuk untuk berkembang biak dan berpotensi melakukan kontak dengan manusia dan menularkan parasit malaria. Contoh faktor-faktor lingkungan itu antara lain hujan, suhu, kelembaban, arah dan kecepatan angin, ketinggian. Air merupakan faktor esensial bagi perkembang-biakan nyamuk. Karena itu dengan adanya hujan bisa menciptakan banyak tempat perkembangbiakan nyamuk akibat genangan air yang tidakdialirkan di sekitar rumah atau tempat tinggal. Nyamuk dan parasit malaria juga sangat cepat berkembang biak pada suhu sekitar 20-27 derajat C, dengan kelembaban 60-80 %. Karena itu iklim di NTT memiliki kondisi suhu dan kelembaban yang ideal untuk perkembangbiakan nyamuk dan parasit malaria.
Secara teoritis, nyamuk bisa terbang sampai 2-3 km, namun pengaruh angin, jarak terbang nyamuk bisa mencapai 40 km. Bahkan dengan perkembangan sarana transportasi, nyamuk bisa mencapai daerah yang jauh dengan menumpang alat transportasi. Para ahli juga memperkirakan bahwa perubahan iklim global telah turut mempengaruhi penyebaran nyamuk malaria. Nyamuk anopheles yang biasanya hanya ditemukan di daerah dataran rendah sekarang bahkan bisa ditemukan di daerah pengunungan, yang tingginya di atas 2000 m dari permukaan laut.
Salah satu faktor lingkungan yang juga mempengaruhi peningkatan kasus malaria adalah penggundulan hutan, terutama hutan-hutan bakau di pinggir pantai. Akibat rusaknya lingkungan ini, nyamuk yang umumnya hanya tinggal di hutan, dapat berpindah ke pemukiman manusia. Di daerah pantai, kerusakan hutan bakau dapat menghilangkan musuh-musuh alami nyamuk sehingga kepadatan nyamuk menjadi tidak terkontrol.
Malaria juga sulit diberantas karena keberadaan nyamuk itu sendiri yang mencapai ratusan spesies. Tidak kurang dari 400 jenis nyamuk anopheles hidup di muka bumi. Dari jumlah ini, “hanya” 80 jenis yang dapat menularkan malaria. Indonesia memiliki sekurang-kurangnya 20 jenis anopheles; dimana 9 spesies di antaranya ditemukan di daerah NTT.
Faktor lain yang turut memperparah kondisi malaria di dunia, termasuk di Indonesia adalah akibat resistensi nyamuk terhadap insektisida dan obat anti malaria. Zaman dulu DDT merupakan insektisida yang sangat ampuh membunuh nyamuk malaria dan berhasil menekan kasus malaria di berbagai belahan bumi. Namun belakangan diketahui bahwa ternyata nyamuk telah menjadi kebal dengan DDT dan juga pengaruh negatif DDT terhadap kematian serangga lain yang ternyata secara ekologis berguna bagi manusia. Karena itu DDT akhirnya dilarang dan tindakan penyemprotan rumah untuk tindakan anti malaria menggunakan insektisida lain yang lebih mahal. Akibatnya tindakan penyemprotan merupakan kebijakan paling akhir yang baru bisa diambil jika cara lainnya dianggap gagal dan hanya dalam keadaan kejadian luar biasa atau wabah. Tentunya harus didahului dengan survai entomologis untuk mengetahui secara pasti kebiasaan dan perilaku nyamuk malaria sebelum disemprot.
Pada zaman dulu, klorokuin merupakan obat anti malaria yang paling ampuh yang dipakai untuk mengobati malaria. Dewasa ini, klorokuin juga mulai kehilangan keampuhannya akibat resistensi parasit malaria terhadap klorokuin. Kondisi ini terjadi karena pola pengobatan dan dosis klorokuin yang sering tidak sesuaistandar. Sekarang untuk pengobatan malaria mulai memakai obat baru yang dikenal dengan sebutan artemisinin combination treatment atau ACT. Untuk itu, agar tidak terjadi resisten pengobatan lagi, sangat diharapkan para petugas kesehatan memberikan dosis pengobatan yang tepat dan juga pasien atau masyarakat harus taat minum obat sesuai dosis yang disarankan. Jangan karena merasa sudah sembuh, lantas pengobatan dihentikan. Ini akan sangat berbahaya karena dapat menimbulkan resistensi obat malaria di masa depan.
Cara terakhir untuk mengontrol malaria secara “mudah dan murah” adalah upaya proteksi diri dan keluarga terhadap gigitan nyamuk malaria. Marilah kita secara bersama-sama memperhatikan lingkungan sekitar kita.
Bebaskan rumah dan tempat tinggal kita dari genangan air atau tutuplah tempat-tempat penampungan air yang bisa menjadi sarang nyamuk. Biasakanlah tidur dengan menggunakan kelambu atau baju lengan panjang. Jangan biarkan terjadi kontak antara nyamuk dengan diri Anda. Selanjutnya, jika Anda sakit, cepatlah mencari pengobatan sehingga Anda tidak menjadi sumber penuluran bagi keluarga dan tetangga Anda. Yang paling penting, minumlah obat sesuai dosis yang diberikan sampai habis. Jangan biarkan malaria merongrong kehidupan kita terus. Mari berantas nyamuk untuk memberikan masa depan yang lebih baik bagi generasi kita.
* Penulis, PNS pada Dinas Kesehatan NTT
D. Sporadiks

Fenomena Meningkatnya Kasus Necrotic Enteritis

Necrotic Enteritis (NE) merupakan jenis penyakit yang belakangan ini fenomenanya cenderung mengalami peningkatan kasus cukup signifikan dilapangan. Kasus NE tercatat banyak menimbulkan permasalahan pada peternakan ayam broiler modern, namun demikian cukup banyak juga dilaporkan terjadi pada peternakan ayam petelur komersial serta breeder (peternakan ayam pembibitan).

Kasus NE secara langsung menyebabkan gangguan fungsi sistem pencernaan, sehingga dinilai sangat merugikan secara ekonomis berkenaan dengan gangguan efesiensi pakan (FCR yang meningkat cukup signifikan) dan gangguan pertumbuhan serta sejumlah kematian. Dari sisi biaya yang harus dikeluarkan oleh peternak ayam broiler untuk pengobatan terhadap NE, untuk setiap ekor ayamnya dapat mencapai antara Rp 400 – 500 tergantung derajat keparahan penyakit, lama waktu pengobatan serta umur ayam saat dilakukan pengobatan.

Necrotic Enteritis merupakan salah satu penyakit infeksius yang disebabkan oleh bakteri jenis Clostridium perfringens, dimana tergolong bakteri gram-positif, bersifat anaerobic, umum dapat ditemukan di tanah, litter, debu dan pada level yang rendah ditemukan dalam usus ayam sehat. Clostridium perfringens hanya akan menyebabkan NE bila karena kondisi yang mendukung dalam saluran pencernaan ayam, bakteri tersebut berubah sifat dari type yang tidak memproduksi toksin menjadi type yang mampu memproduksi toksin.

Beberapa type Clostridium perfringens

Terdapat lima type dari Clostridium perfringens (A, B, C, D and E) dimana mampu memproduksi sejumlah toksin seperti toksin: alpha, beta, epsilon, iota and toksin CPE. Alpha toksin dan enzim phospholipase C diyakini sebagai kunci penyebab terjadinya NE. Namun demikian dari studi yang dilakukan oleh pada ahli belakangan ini, isolat dari Clostridium perfringens yang tidak memproduksi alpha toksin tetap dapat menimbulkan terjadinya NE.

Sebagai tambahan, toksin yang disebut NetB belakangan ini diidentifikasi dapat menyebabkan terjadinya NE yang disebabkan oleh salah satu isolat Clostridium perfringens (Anthony Keyburn, CSIRO Livestock Industries Researchers).

Usus dari ayam yang terinfeksi Clostridium perferingens menjadi rapuh dan menggelembung disertai adanya timbunan gas dan lesi-lesi bersifat nekrosis yang menyebar cukup luas disebabkan oleh toksin yang dihasilkan oleh Clostridium perfringens tersebut. Pada kejadian yang bersifat akut, sering kali adanya kematian pada ayam yang terinfeksi tidak disertai adanya gejala klinis. Namun demikian pada bentuk yang subklinis, lebih banyak menimbulkan kerugian secara ekonomis berupa gangguan pertumbuhan dan problem efesiensi pakan.

Gejala klinis dan lesi

Gejala awal dari ayam yang mengalami infeksi Clostridium perfringens penyebab NE serikali nampak ayam mengalami diare dengan kotoran agak encer warna merah kecoklatan (seperti warna buah pepaya) disertai dengan cairan asam urat yang keluar bersama feces dan terkadang fecesnya bercampur dengan sejumlah material pakan yang tidak tercerna secara sempurna. Akibat terjadinya diare, litter nampak cepat basah dan cemaran ammonia jadi meningkat cukup tajam ada dalam kandang, sehingga dapat memperparah kondisi sakit dari ayam dan meningkatnya jumlah kematian. Pada ayam broiler, seringkali kasus NE dapat diamati cukup jelas saat memasuki umur 3 (tiga) minggu keatas.

Gangguan pertumbuhan (pertumbuhan melambat) dan problem efisiensi pakan (FCR jadi membengkak) disebabkan karena rusaknya dinding usus oleh toksin yang dihasilkan oleh infeksi Clostridium perfringens, dimana terjadi gangguan penyerapan nutrisi pakan oleh dinding usus. Contoh gambar dibawah menunjukkan tingkatan derajat lesi disebabkan oleh paparan Alpha toksin yang dihasilkan oleh infeksi Clostridium perfringens (derajat lesi dari tingkat 1 – 4), dimana semakin berat derajat lesinya, maka semakin berkurang nutrisi yang mampu diserap oleh dinding usus, sehingga sangat berdampak pada gangguan pertumbuhan dan membengkaknya FCR.

Secara khusus kasus NE yang bersifat sporadik seringkali dapat terjadi pada peternakan ayam, baik pada peternakan ayam broiler (pedaging), petelur komersial maupun breeder, dapat terjadi bila mana tidak digunakannya antibiotika yang berfungsi sebagai growth promoters atau problem infeksi oleh Emeria spp. penyebab Koksidiosis tidak terkontrol dengan maksimal, praktik manajemen pemeliharaan ayam dibawah standar (tidak sesuai dengan keinginan ayam modern), serta pakan dengan kandungan NSP (Non Starch Polisacharida = Karbohidrat bukan Pati) yang cukup tinggi dan sumber protein asal hewani yang cukup tinggi kandungannya dalam sediaan pakan
.

Referensi:
Mutaqin,Aris.Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Pernapasan.Jakarta:Salemba Medika,2008.
Betz L dan Sowden A Linda 1999, “keperawatan pedaitri, Penerbit buku kedokteran ECC,” Jakarta. Halaman 316-321. Diakses tanggal 14 Maret 2014
Bagbei Laily 1990, “Infectectious Diseases, Nelson Essentials of Pediatric,” halaman 284-308. Diakses tanggal 14 Maret 2014

Dames,Eko.”Peranan dan Pengertian Epidemiologi dalam Kesehatan Masyarakat,”http://ekookdamezs.blogspot.com Diakses pada tanggal 15 Maret 2014

Ndoen,Ermi ML.”Penyakit Menular & Kualitas Lingkungan,"http://kesehatanlingkungan.wordpress.com.diakses pada tanggan 14 maret 2014
Nurhidayah,Evi.”Penyakit Meningitis,” http://evynurhidayah.wordpress.com.Diakses pada tanggal 14 Maret 2014

Utami,Ekki Indri Retno.” Epidemiologi dan Peranannya dalam Pemecahan Masalah Kesehatan di Masyarakat,”http://ekkiindri.blogsot.com Diakses pada tangga 14 maret 2014.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar